Saturday, February 25, 2012

Resign


Gambar: Arra
Saat masih kanak-kanak kita selalu bermimpi untuk bisa segera bersekolah. Setelah lulus sekolah/kuliah, kita akan berharap dan berusaha keras untuk segera mendapat pekerjaan. Urus sana sini menyusun surat lamaran pekerjaan. Lalu masuk kantor itu ini berharap ada tempat yang bersedia menggunakan jasa kita. It’s oke..., itu adalah bagian dari proses untuk mendapatkan hal yang kita inginkan.

Setelah kita berhasil mendapatkan pekerjaan, kita akan merasa itu adalah hal yang terindah, terlebih jika pekerjaan itu sesuai dengan keinginan kita. Seakan semua perjuangan yang kita jalani selama ini telah berakhir, dan saatnya menuai hasil dari jerih payah kita.

Tapi sesungguhnya “pertempuran” baru saja dimulai, karena dunia kerja adalah perjuangan sesungguhnya dalam sebuah perjalanan karir. Dedikasi, kontribusi, Improfisasi, Realisasi, Progresifitas, Kreatifitas, Inisiatif dan hal-hal lain yang bersifat membangun adalah mutlak harus selalu diutamakan.

Dalam perjalanan karir, kita akan mendapat hal baru yang bisa kita ambil sebagai pelajaran positif untuk diri kita, tapi akan sangat banyak pula tantangan atau masalah yang akan kita dapatkan. Saat masalah yang datang itu masih bisa kita atasi, maka kita akan menganggap itu sebagai pelengkap dari perjalanan. Tapi jika waktunya masalah yang datang terasa begitu berat dan sangat sulit untuk diselesaikan, maka itu akan menjadi mimpi buruk yang akan setia merusak hari-hari kita yang seharusnya indah.


 “Life is never flat...!” saya pinjam ungkapan itu sebagai penegasan.

Seseorang yang menjadi pelaku dalam dunia kerja akan mengalami pertaruhan yang sangat rumit ketika berada dalam tekanan kerja.  Dalam situasi yang ekstrim, jalan pikiranpun akan ‘bermanufer’ untuk berusaha keluar dari tekanan, tapi jika posisi sudah benar-benar terpojok, Keputusan yang yang sebelumnya tidak pernah terpikirpun akan diambil, bahkan akan menjadi sebuah obsesi yang harus diwujudkan. Dan pada akhirnya kenangan saat berjuang untuk mendapatkan pekerjaanpun harus dihapuskan.

Resign...ya...itulah satu kata yang terdengar begitu sederhana tetapi akan begitu sangat rumit ketika seseorang sedang berada dalam proses pengambilan keputusan ini. Kata yang seakan menjadi anticlimax atas obsesi karir seseorang.Tidak dapat dipungkiri jika keputusan Resign akan sangat berdampak pada kelanjutan hidup para pelakunya. Baik buruknya akibat itu ditentukan dari Latar belakang pengambilan keputusan, Pertimbangan yang matang saat akan memutuskan, dan Merencanakan kelanjutan karir setelah keputusan diambil.

Latar belakang pengambilan keputusan ...iya lah, pasti akan ada latar belakang atau sebab kenapa seseorang sampai mengambil keputusan untuk Resign. Dari internal pekerjaan ada beberapa alasan seperti selalu mendapat tekanan dari atasan karena dinilai hasil kerja yang tidak memuaskan, kontribusi yang selalu tidak dihargai oleh Pimpinan, gaji yang dinilai tidak sepadan dengan jenis pekerjaan yang dilakukan, waktu kerja yang terlalu panjang dari standar kewajaran, rekan kerja yang selalu menggaggu contohnya selalu mencari-cari kesalahan sehingga kita merasa tidak nyaman saat bekerja, atau bahkan pola kerja yang tidak pasti sehingga kita merasa tidak berkontribusi dan akhirnya kita merasa kehardiran kita disana sudah tidak dianggap lagi.

Adapun alasan yang berasal dari eksternal pekerjaan misalnya Alasan kesehatan, pindah tempat tinggal, melanjutkan studi, ada kesempatan kerja yang lebih baik di tempat lain yang lebih cocok dengan keahlian dan latar belakang pendidikan kita, atau ingin membangun usaha sendiri. Sebenarnya banyak sekali  faktor yang menjadi pertimbangan seorang pekerja dalam memutuskan untuk resign,  dan beberapa contoh diatas bisa dijadikan faktor yang menurut saya masuk akal sebagai dasar dalam mengambil keputusan.  

Pertimbangan yang matang saat akan memutuskan. Menurut saya ini sangat penting, mengkaji kembali persoalan yang akan kita jadikan sebagai alasan, akan membuat kita cerdas dalam mengambil keputusan. Sebaiknya jika alasan itu hanya berdasar pada emosi dan sakit hati semata, lebih baik pertimbangkan lagi keputusan untuk resign.

Merencanakan kelanjutan karir setelah keputusan diambil. Bagaimanapun hidup harus tetap berlanjut, dan untuk melanjutkan hidup kita harus mempunyai penghasilan untuk memenuhi berbagai kebutuhan kita. Terlebih untuk kita menjadi tulang punggung kehidupan untuk orang lain. Karena jika kita memutuskan untuk resign, itu berarti kita sudah kehilangan salah satu sumber penghasilan. Maka dari itu lebih baik jangan terburu-buru mengambil keputusan jika kita belum tahu dengan apa yang akan kita lakukan setelah keputusan diambil.

“...If it’s yours, Than it’s yours...” saya sangat setuju dengan ungkapan Pandji Pragiwaksono dalam salahsatu E-Book-nya itu, karena kita memang harus yakin bahwa rejeki setiap orang sudah diatur oleh Tuhan, tinggal kita sebagai manusia harus berusaha untuk menjemputnya. Tapi itu bukan berarti kita bisa seenaknya saja menyikapi suatu persoalan. Saya rasa kita semua sudah mengerti itu, tapi terkadang kita yang tidak mau mengerti.

Oke...ini hanya cerita saya dengan beberapa sahabat, kami hanya ingin sharing mengenai pengalaman kami. So...be your self...karena salahsatu hal yang paling mengenangkan adalah saat kita berada di lingkungan yang membuat kita nyaman.

No comments:

Post a Comment