Friday, August 2, 2013

Menghargai Keringat Orang Lain

Miris rasanya jika mendengar ada upah pekerja yang belum dibayar melewati batas waktu yang sudah seharusnya, bahkan hingga berbulan-bulan. Termasuk ketika aku mendengar curhatan seorang kawan yang berprofesi sebagai buruh bangunan. Upah yang seharusnya ia terima pada setiap minggu, malah tak kunjung dapat ia genggam. Katanya sih alasannya sepele, bos-nya sedang di luar kota.

Bagaimanapun, sebagai seseorang yang pernah menjadi karyawan, tentunya aku sangat bisa memahami bagaimana rasanya jika hak yang sudah waktunya aku terima malah tertahan di "brangkas" kantor. Terlebih bagi kawanku yang dikejar-kejar kewajiban untuk memenuhi segala kebutuhan keluarga kecilnya itu, apakah sang bos tidak berpikir sampai sana? Dalam hal ini, rasanya keterlaluan jika si bos menganggap mengulur waktu adalah sebuah kewajaran, karena yang namanya urusan perut mana bisa ditunda-tunda!

Ini menjadi satu pelajaran buatku. Terlepas dari berbagai kendala yang terjadi ditubuh internal pihak pengguna jasa para pekerja, tetap saja hak para pekerja tidak dapat dianggap sepele. 

Aku jadi teringat sepotong kalimat dari Uwa saat beliau memberiku wejangan beberapa tahun lalu, dan potongan kalimat ini benar-benar terpatri dipikiranku "Bayarlah upah orang yang membantumu menyelesaikan pekerjaanmu, sebelum keringat mereka mengering!"

24 comments:

  1. kasihan bener..mana mau lebaran lagi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, mana lebarannya gak bakal mau nungguin lagi.

      Delete
    2. tapi kan yang penting bisa mudik

      Delete
  2. mesti diingetin para bos, pa lagi mau lebaran

    ReplyDelete

  3. eniwei Mas, ketangkep pesennya. sebenarnya kalo si bos berfikir soal teori ikhlas, dia nggak akan sayang duitnya buat nggaji buruhnya. pasti uang itu akan kembali dan mungkin dalam jumlah yang lebih banyak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, pesan itu juga pernah disampaikan seseorang sama aku, mas.

      Delete
  4. saya kalo main tenis keringetan, tapi nggak ada yang peduli, coba.

    ReplyDelete
  5. Lah, kalao bosnya dikeluar kota kan bisa pake transfer.hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku juga gak ngerti, mas. Kalo maksutnya ditransfer ke kawanku, dia kan gak punya rekening di bank.

      Delete
  6. Semoga cepat dibereskan thr yang belum dibayar ataupun ditransfer :)

    ReplyDelete
  7. sebetulnya banyak Kang, seperti situasi kerja di tempat ayahnya juga, in shaa Alloh yang karyawan tidak begitu tarasa penderitaannya walau gaji dan lembur sering dirapel bulan depan, bahkan 6 bulan setelahnya karena masih ada tunjangan, tapi bagi karyawan kontraktor dan sub kontraktor, gaji yang seharusnya oleh manajemen ditetapkan minimal sekian rupiah, eh...sama bos kontraktornya yang sekian persen diembat sendiri masuk kantong pribadi, kan jahat dan kejam sekali...semoga mereka dilimpahkan kesadaran...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yahh, sepertinya memang sudah menjadi rahasia umum, mbak. :(

      Delete
  8. ya memang cuma manusia yang doyan keringat sesama
    kalo cuma sapi sih binatang juga doyan

    ReplyDelete
  9. Menghargai jerih payah orang lain merupakan cara agar kita bisa menunjukkan bahwa kita perduli kepada sesama kang :D

    ReplyDelete
  10. kasihan sekali, bos yang egois tuh gak berperasaan.

    ReplyDelete
  11. Iya tuh si bos-bos perlu di ingatkan tentang tanggung jawab... bagaimanapun juga para pekerja sudah melakukan tanggung jawab bekerja saatnya mereka mendapatkan hak-nya sepatutnya dibayar kalo perlu ditambah..hehehe

    ReplyDelete