Senin, 30 April 2012

Kritis Bukan Berarti Rasis

Dalam postingan kali ini saya ingin mengangkat hal yang lebih serius dari biasanya. Dilandasi ‘kegelisahan’ saya ketika membaca beberapa artikel blog sahabat dan beberapa forum yang mengangkat topik  tentang hal-hal yang berkaitan dengan keberagaman agama. Topik-topik yang diangkat disana begitu menarik, informatif dan bahkan inspiratif. Tapi yang membuat saya gelisah adalah hampir dari semua renponse terhadap topik yang membahas tentang agama ini ko’ cenderung mengarah pada tindakan rasis, yang justru membuat topik itu menjadi ajang ‘pertengkaran’ bahkan saling menghina antar etnis atau penganut (agama) satu sama lain. Harusnya kan ini dijadikan sebagai tempat bertukar pikiran atau berdiskusi, agar kita sebagai masyarakat yang hidup di negara yang memang penuh dengan perbedaan (etnis dan agama) ini bisa lebih saling mengerti dan saling menghargai satu sama lain.

Memang sih dalam satu tempat atau kesempatan pasti akan ada saja pihak yang memanfaatkan situasi untuk berusaha mem-provokasi keadaan, tapi tidak seharusnya juga kita menyikapinya secara frontal, karena itu justru akan menambah keruh situasi. Oke saya juga mengerti, siapa sih yang tidak sakit hati jika agamanya dihina oleh pihak lain?, jangankan anda, saya juga pasti akan berang ketika agama saya dihina, karena secara tidak langsung itu merupakan penghinaan terhadap saya sendiri. Nah jika itu terjadi pada kita, apakah kekerasan (secara verbal atau fisik) itu adalah satu-satunya cara menyelesaikan masalah?, tentunya tidak kan?, pasti ada cara yang lebih baik daripada sekedar ‘gontok-gontokan’.

Dalam kolom komentar pada salah satu artikel yang saya baca, saya mendapati seseorang yang bercerita jika dia sering mengalami tindakan diskriminasi oleh pihak tertentu. Karena dia merupakan etnis/agama minoritas dilingkungan tersebut, dia kerap kali mendapat ejekan dari beberapa orang yang memang berbeda agama dengannya. Lalu dia menulis pertanyaan “...ada apa dengan ajaran ‘agama anda’, dan apa yang salah dengan ‘agama saya’, sehingga saya harus diejek seperti itu???”(dia menyebutkan nama Agama, saya ganti dengan ‘agama anda/saya’) . Jika pertanyaanya seperti itu, maka akan menjadi seakan-akan memang agama lah yang salah, padahal pada dasarnya setiap agama tentunya akan mengajarkan kebaikan dan tidak akan mengajarkan umatnya untuk melakukan hal yang salah. Mungkin pertanyaan yang tepat adalah seperti ini “...ada apa dengan Orang itu, dan apa yang salah dengan saya, sehingga saya harus menerima ejekan darinya???” . Yang menjadikan citra satu Agama menjadi buruk adalah ulah pemeluknya itu sendiri yang sama sekali tidak memahami ajaran Agama yang dia anut. Jadi marilah kita menjadi ‘wakil’ yang baik untuk agama masing-masing.

Saya sedih jika mendengar berita tentang kerusuhan atau pertikaian karena alasan perbedaan etnis dan agama. Ayolah Bung...arti Agama tidak sedangkal itu sehingga dijadikan pantas untuk diributkan, bukankah Agama itu ada untuk menyelamatkan manusia agar hidup dalam damai?!.

Terlepas dari berbagai masalah politiknya, saya merasa sangat beruntung karena tinggal di Negara yang sangat menghargai perbedaan. Harusnya Indonesia ini bisa menjadi contoh untuk negara lain karena walaupun Negara kita ini terdiri dari beragam sekali Suku, Etnis, Agama, Bahasa dan Budaya toh sampai saat ini Negara kita bisa tetap utuh. Coba deh berkaca dari sejarah India saat terlepas dari Inggris, mereka sempat mengalami ‘perpecahan’ karena Umat Muslim yang merupakan kaum minoritas merasa takut mengalami diskriminasi dari kaum mayoritas, lalu merekapun pergi dari India dengan cara yang menyedihkan karena mendapat cemoohan dan mendirikan Negara sendiri yaitu Pakistan. Nah kita tidak harus mengalami kejadian itu, dan sekarang kita harus berusaha menjaga supaya kejadian itu tidak menimpa Negara kita. 

Saya punya teman berbeda agama bernama Chichi, dari namanya mungkin anda akan berpikir dia adalah keturunan China, tapi bukan, dia orang pribumi yang berasal dari Cirebon. Saya sering berbagi cerita dengannya, dan satu ketika dia pernah cerita tentang daging babi yang menurut dia rasanya jauh lebih enak dari daging sapi. Karena saya seorang Muslim, saya hanya bisa angguk-angguk saja, karena bagaimanapun saya tidak akan mencicipinya karena bagi Umat Muslim, daging babi haram dikonsumsi. Dan sebaliknya, sayapun suka bercerita tentang Islam, tentang kenapa Shalat diwajibkan bagi Muslim, kenapa harus berpuasa di bulan Ramadhan dan lain-lain. Dengan sharing seperti itu kita akan mendapat pengetahuan baru tentang apa yang belum pernah diajarkan pada kita, dan itu akan membuat kita semakin respect menghadapi perbedaan. Jadi jika perbedaan itu bisa dibuat menjadi indah, kenapa harus buang waktu dan tenaga untuk meributkannya?!.

Kita memang harus kritis dalam memandang satu permasalahan, tapi kita juga harus cerdas dalam menyikapinya. Sikap Frontal yang tidak pada tempatnya hanya akan membuat kita terlihat seperti orang yang tidak beragama. Mari cerdaslah dalam menyikapi perbedaan, karena Kritis bukan berarti Rasis.

Untuk sahabat yang kurang sependapat dengan tulisan saya silahkan untuk menyampaikannya di kolom komentar, agar saya mengetahui kelemahan cara berpikir saya. Dan untuk sahabat yang setuju dengan saya, silahkan coblos foto profil saya dengan paku, dan resikonya layar monitor andapun akan segera meninggal hehe...:D

Terima Kasih. :)