Jumat, 03 Agustus 2012

Ketika Sawah Kami Kekeringan


Di daerah tempat tinggal saya terdapat dua blok pesawahan. Uniknya setiap blok sawah disini memiliki nama. Contohnya sawah blok yang berada di sebelah selatan tempat tinggal saya bernama ‘Darmaga’, dan blok sebelah utara bernama ‘Gudawang’. Sudah lama saya penasaran dengan asal-muasal pemberian nama-nama itu, tapi selama ini saya belum menemukan orang yang tahu pasti jawaban atas rasa penasaran saya itu. Untuk ‘Darmaga’ mungkin diambil dari kata ‘Dermaga’, tapi daerah ini kan sangat jauh dari laut. Kalau ‘Gudawang’ sih setahu saya itu nama sebuah Gua di Bogor.

Peta Sawah Darmaga & Gudawang

Tapi saya tidak akan membahas lebih jauh sejarah terbentuknya sawah-sawah tersebut, saya ingin bercerita tentang kekeringan yang melanda sawah-sawah disini.

Semenjak satu minggu yang lalu para petani disini mulai memanen tanaman padi mereka. Tapi rupanya panen kali ini sangat mengecewakan para petani. Pasalnya kemarau yang melanda pada pertengahan musim tanam, membuat lahan pesawahan menjadi kekurangan air, padahal saat itu tanaman padi sedang dalam tahap memerlukan pasokan air yang cukup.

Sawah Kekeringan

Karena keterbatasan pasokan air itu para petani mulai membagi jatah air untuk mengaliri masing-masing lahan, walaupun terkadang jatah yang diberikan tidak dapat mengaliri seluruh petak sawah, akibatnya tingkat kesuburan Padi pun tidak merata. Padi yang masih teraliri air dapat terus tumbuh sampai keluar bakal bulir padi, tetapi Padi yang petaknya tidak teraliri air menjadi kering dan tidak bisa tumbuh dengan baik.

Semakin mendekati masa panen, kekeringanpun semakin parah. Satu-satunya sungai yang menjadi jalur pasokan airpun sudah tidak dialiri air, akibatnya parit-parit yang biasa membagi pasokan airpun menjadi kering kerontang. Beruntung saat itu padi sudah mencapai tahap pematangan, sehingga padi tidak terlalu memerlukan banyak air.

Parit Kekeringan

Ketika waktu panen tiba (walaupun sebenarnya lebih cepat dari waktu normal karena padi yang sudah mengering), petani pun harus memilih-milih tanaman padi yang bisa di tuai, berhubung tidak semua tanaman padi berbuah karena pasokan air yang tidak merata tadi. Walhasil padi yang dihasilkan dari panen kali ini sangat jauh dari kata ideal, bahkan seorang petani berkata pada saya “Aaahh...panen sekarang mah, kita dapat hasil sebanyak benih yang dulu kita semai juga, itu sudah Alhamdulillah banget Cep...” katanya.

Sawah Kekeringan

Sebagai perbandingan, seorang petani yang mengelola lahan seluas 45 bata, yang dalam kondisi normal dapat mengkasilkan sekitar 3,5 sampai 4 Kwintal padi dalam sekali panen, pada panen kali ini hanya dapat menghasilkan sekital 60 kg padi saja. Miris memang, tapi itulah kenyataanya.

Sawah Kekeringan

Ya, sekecil apapun hasil yang kita dapat harus selalu kita syukuri, asalkan dalam prosesnya kita sudah berusaha semaksimal mungkin. Karena dilain kesempatan, setiap kerja keras kita pasti akan terbalas. Semoga saja kekeringan ini segera berakhir.