Ketika Sawah Kami Kekeringan


Di daerah tempat tinggal saya terdapat dua blok pesawahan. Uniknya setiap blok sawah disini memiliki nama. Contohnya sawah blok yang berada di sebelah selatan tempat tinggal saya bernama ‘Darmaga’, dan blok sebelah utara bernama ‘Gudawang’. Sudah lama saya penasaran dengan asal-muasal pemberian nama-nama itu, tapi selama ini saya belum menemukan orang yang tahu pasti jawaban atas rasa penasaran saya itu. Untuk ‘Darmaga’ mungkin diambil dari kata ‘Dermaga’, tapi daerah ini kan sangat jauh dari laut. Kalau ‘Gudawang’ sih setahu saya itu nama sebuah Gua di Bogor.

Peta Sawah Darmaga & Gudawang

Tapi saya tidak akan membahas lebih jauh sejarah terbentuknya sawah-sawah tersebut, saya ingin bercerita tentang kekeringan yang melanda sawah-sawah disini.

Semenjak satu minggu yang lalu para petani disini mulai memanen tanaman padi mereka. Tapi rupanya panen kali ini sangat mengecewakan para petani. Pasalnya kemarau yang melanda pada pertengahan musim tanam, membuat lahan pesawahan menjadi kekurangan air, padahal saat itu tanaman padi sedang dalam tahap memerlukan pasokan air yang cukup.

Sawah Kekeringan

Karena keterbatasan pasokan air itu para petani mulai membagi jatah air untuk mengaliri masing-masing lahan, walaupun terkadang jatah yang diberikan tidak dapat mengaliri seluruh petak sawah, akibatnya tingkat kesuburan Padi pun tidak merata. Padi yang masih teraliri air dapat terus tumbuh sampai keluar bakal bulir padi, tetapi Padi yang petaknya tidak teraliri air menjadi kering dan tidak bisa tumbuh dengan baik.

Semakin mendekati masa panen, kekeringanpun semakin parah. Satu-satunya sungai yang menjadi jalur pasokan airpun sudah tidak dialiri air, akibatnya parit-parit yang biasa membagi pasokan airpun menjadi kering kerontang. Beruntung saat itu padi sudah mencapai tahap pematangan, sehingga padi tidak terlalu memerlukan banyak air.

Parit Kekeringan

Ketika waktu panen tiba (walaupun sebenarnya lebih cepat dari waktu normal karena padi yang sudah mengering), petani pun harus memilih-milih tanaman padi yang bisa di tuai, berhubung tidak semua tanaman padi berbuah karena pasokan air yang tidak merata tadi. Walhasil padi yang dihasilkan dari panen kali ini sangat jauh dari kata ideal, bahkan seorang petani berkata pada saya “Aaahh...panen sekarang mah, kita dapat hasil sebanyak benih yang dulu kita semai juga, itu sudah Alhamdulillah banget Cep...” katanya.

Sawah Kekeringan

Sebagai perbandingan, seorang petani yang mengelola lahan seluas 45 bata, yang dalam kondisi normal dapat mengkasilkan sekitar 3,5 sampai 4 Kwintal padi dalam sekali panen, pada panen kali ini hanya dapat menghasilkan sekital 60 kg padi saja. Miris memang, tapi itulah kenyataanya.

Sawah Kekeringan

Ya, sekecil apapun hasil yang kita dapat harus selalu kita syukuri, asalkan dalam prosesnya kita sudah berusaha semaksimal mungkin. Karena dilain kesempatan, setiap kerja keras kita pasti akan terbalas. Semoga saja kekeringan ini segera berakhir.

45 komentar:

  1. perlu alternatif pengairan sobat....follow ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sudah Bro coma menggali sumur, tapi tetap saja tidak bisa memenuhi kebutuhan.

      Hapus
  2. ya, kekeringan dimana-mana. kasihan para petani.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mas, kalau dibandingkan dengan kerja keras mereka, kejadian ini begitu miris.

      Hapus
  3. Kemarau ini di Jawa Barat ya Kang? maklum, di padang minggu kemaren banjir bandang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, ini di jawa barat Bang.

      Ya ampuun, alam memang tidak bisa ditebak ya, saya turut prihatin Bang atas kejadian yang menimpa Padang.

      Hapus
  4. kasihan sawahnya kering, pasti gagal panen tuh sobat...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mas Asis, ini bisa dikategorikan gagal panen.

      Hapus
    2. Yaps sobat, sama dengan sawah mertua sy yang gagal panen, kasihan sobat..

      Hapus
  5. gagal panen memang resiko yang sangat besar dan merugikan petani... tapi begitulah hidup kadang panen berhasil dan kadang juga gagal...

    yang penting sabar...

    BalasHapus
  6. Balasan
    1. Apalagi bertepatan dengan bulan Ramadhan, kemungkinan naik sangat besar. Tapi jika naikpun jangan sampai terlalu drastis deh, kasihan masyarakat kita :)

      Hapus
  7. solusi permanennya yaitu, berhenti nebang pohon sembarangan, jgan buang sampah sembarangan, menggunakan air dengan irit...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepakat, itu adalah pencegahannya. Tapi sekarang hal yang ditakutkan telah terjadi, dan yang di perlukan adalah penanganan yang nyata.

      Hapus
  8. kekeringan dimana-mana. kasihan juga untuk para petani.

    BalasHapus
  9. emang cuaca saat ini tidak bisa diprediksi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, entah kenapa bisa begitu, apa ada hubungannya dengan efek global warming ya?

      Hapus
  10. lika-liku dan kisah pilu kehiudpan petani, saia juga tahu banget karena lahir dan dibesarkan dari keluarga petani [kecil]. Bagaimana penghasilan bisa dibilang masih BEP, atau bahkan cenderung BEP. DAn itupun mereka tidak memperhitungkan tenaga kerja karena kebanyakan menggunakan tenaga kerja sendiri ataupun sistem gantian. Bisa di bilang, kehidupan petani sampai sekaran msih berada dalam kategori sebaai pihak yg belum sejahtera. Ini bukan keluh kesah, tapi faktanya mmg demikian..apalagi jika musim kemarau melanda. Di desa saya, tahun kemarin hanya bisa panen sekali itupun dengan hasil yang miris, balik modal saja Alhamdulillah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makanya petani pun berkata, sudah dapat mengganti benih yang dulu disemaipun itu sudah beruntung, itu berarti hasil panen sekarang hanya impas saja, atau bahkan mungkin merugi jika diperhitungkan dengan tenaga dan biaya tambahan yang mereka keluarkan.

      Yahh demikianlah kenyataannya Mbak, saya harap pihak yang berwenang dalam hal ini dapat menemukan solusi yang lebih strategis untuk mengatasi persoalan ini.

      Hapus
  11. SUBHANALLAH..
    kekeringan melanda dibeberapa titik daerah, trmasuk daerah saya, semoga kekeringan ini segera tergantikan dengan musim hujan lgi.. aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiin, akhir-akhir ini juga sudah tampak ada mendung Kang, tapi hujannya selalu gak jadi.

      Hapus
  12. moga pihat terkait ada yg mau bantu kasih solusi agar permasalahan tsb tidak berlarut...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya dan para petani juga sangat berharap seperti itu :)

      Hapus
  13. kalau sungai-nya kering, maka perlu dicheck ke hulu-nya..jangan-jangan disana sudah tidak ada lagi mata air yang berfungsi sempurna karena penggundulan hutan, bagaimanapun keseimbangan alam dan lingkungan serta aktifitas manusia itu sangat berpengaruh terhadap apa yang kita sebut kemarau dan kekeringan..., semoga panen yang akan datang sudah bisa ditemukan solusinya kawan...salam Ramadhan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memamng betul Bang, daerang yang dulunya menjadi resapan air, kini sudah banyak dijadikan komplek pemukiman, bahkan ada yang sudah disulap menjadi kawasan bisnis atau Restaurant besar. Dulu sungai yang melintas dikawasan pesawahan kami selalu mengalir air di musim kemarau walaupun hanya sedikit, tapi sekarang baru kemarau sedikit saja, sungai sudah kering kerontang.

      Hapus
    2. maka yang jadi korban adalah daerah yang berada di batang sungai dan muara-nya, seharusnya pemerintah memikirkan hal ini, jangan hanya berusaha membangun tanpa mau memelihara kelestarian alam

      Hapus
  14. wah miris ya. ehm. musibah emang lagi di mana mana, kita yang mesti waspada. kata ebit g ade, mungkin tuhan mulai bosan. melihat tingkah kita.

    BalasHapus
    Balasan
    1. yang selalu salah dan bangga atas dosa dosa :(

      Hapus
    2. Iya Mas, bukan bermaksud menghakimi siapapun, tapi memang begitu adanya, karena beberapa pihak yang melakukan tindakan yang tidak bijak terhadap alam, yang harus menanggung akibatnya malah pihak yang sama sekali 'tidak berdosa'.

      Hapus
    3. iya ya, kata pepatah bilang. gara gara nila setitik, rusak susu sebelanga.

      Hapus
  15. sama ditempat kelahiran saya mas

    salam kenal
    ditunggu followbacknya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Rupanya kekeringan melanda banyak daerah ya Mas.

      Salam kenal, sudah saya polbek lho Mas. :)

      Hapus
  16. smoga cepat datang hujannya sob

    BalasHapus
  17. Jumlah yang banyak masih sering menjadi tolak ukur kita padahal barokah lah yang lebih kita butuhkan. Tidak apa banyak asal barokah, daripada sedikit tapi tidak barokah. ( ya iya lah! ). mudah-mudahan para petani tetap bisa mempertahankan sabar dan syukur dengan keadaan yang ada, mungkin perlu mulai dipikirkan untuk memanam tanaman lain yang lebih produktif, dan semoga pula ada tindakan nyata dari pihak pemerintah untuk membantu mengatasi masalah ini. Amin...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hhehe...pastinya semua menginginkan kesempurnaan.

      Semoga saja untuk selanjutnya para petani bisa lebih mendapatkan hasil yang lebih baik.

      Hapus
  18. iya ni gan kemarau tahun ini luar biasa...semoga cepet berahir...gan

    BalasHapus
  19. Iya, Super JetPam buat sedot air dari bawah tanah kali yak? hehe

    semoga saja begitu sob.

    BalasHapus