Kamis, 20 September 2012

Kalo Laki, Naik Dong!!!

Ini nih salah satu hal yang membuat saya kagum dari masyarakat pedesaan, jiwa saling membantu dan gotong royongnya masih sangat terpelihara. Contohnya seperti yang telah terjadi kemarin, saat salah satu warga didekat rumah Orang tuaku sedang merenovasi atap rumahnya. 

Sekitar pukul setengah tujuh pagi sudah mulai terdengar suara para pekerja yang sedang memasang kayu untuk rangka atap rumah itu. Tak lama kemudian suasana semakin terdengar ramai oleh banyak orang. Ya, rupanya itu adalah bapak-bapak yang akan membantu merenovasi rumah tersebut.  Mereka datang tak diundang dan nanti saat pulang pun tak diberi uang, dalam arti mereka datang dengan niat benar-benar untuk membantu, demi menjaga hubungan baik dengan tetangga dan warga lainnya.

Bagaimanapun saya juga ingin eksis dong, nah lalu pergilah saya TKP, walaupun  terdapat beban mental yang terus menghantui benak saya ini yaitu “Nah lho, terus ntar disana gue mau ngapain yak...???”.  Hehe...maklum saja, saya ini kan amatir kalo soal kerja bangunan, apalagi ini urusannya sama atap, otomatis manjat sana-sini. Nah kalau sudah gitu, acrophobia saya ini mau dikemanain coba?!. Ya walaupun phobia saya ini gak parah-parah banget, tapi kalau sampai terpaksa harus menaiki ketinggian, tetap saja dengkul ini bakal serasa mau rontok plus keluar keringat dingin. Haduhh!!!

Begitu saya sampai di TKP, rupanya benar-benar sudah banyak orang yang sedang membatu. Ada yang sudah stand by diatas atap, dan ada juga yang berada dibawah sekedar tunjuk sana tunjuk sini sambil pegang rokok, oke lah...anggap saja beliau adalah Pemimpin Proyek nya :D. 

Dan saya?, hehe...benar-benar mati gaya, saat sampai dilokasi hanya bisa melongo, soalnya bingung mau ngerjain apaan. Dan akhirnya, sayapun dapat kerjaan, walaupun hanya ngangkutin genteng yang nanti bakal dipasang. Beneran deh, rasanya seneng banget bisa dapat kerjaan hehe.

Suasana kerja yang penuh kekerabatan dan penuh candaan, membuat saya semangat. Selain itu disini saya bisa berkeringat, jadi anggap saja olahraga gratis. Setelah beberapa balik saya ngangkutin genteng, bahkan setelah kaos BARCA saya belepotan, seorang Bapak memanggil saya dari atas atap sana “Hei Jang, kalo emang laki, naik dong...!!!” dengan memakai bahasa sunda tentunya. (Jang = Ujang, adalah salah satu panggilan kepada anak laki-laki dalam bahasa sunda).  Beuuuhh...ini Bapak, ngajaknya sih emang sambil bercanda, tapi kata-katanya itu lho, nyambuk banget! Seakan ingin menguji reputasi saya sebagai lelaki sejati. 

Sebagai lelaki sejati saya merasa tertantang dong dengan kata-kata Bapak tadi, tapi...untuk kesekian kalinya, ketinggian sukses membuat nyali ini porak poranda. Huhh, tapi saya gak mau mati gaya lagi, soalnya disini kelaki-lakian saya sedang dipertaruhkan. Oke!!!, saya pun beranikan diri untuk memenuhi tantangan Bapak itu, tapi mungkin lebih tepatnya karena NEKAT.

Saya mulai menaiki tangga, dan batang tanggapun ku pegang erat-erat, karena saya tidak mau kepala saya meletus seperti balon hijau karena terjatuh. Dan benar saja, setelah sukses sampai diatas atap lutut inipun serasa mau lepas, keringat dingin mengucur deras, dan kepercayaan diri seakan terkuras tuntas. 

Seorang Bapak tua bilang sama saya “Jangan terlalu memfokuskan pandangan ke bawah, santai aja...!”. Baiklah pak...tapi ternyata kenyataan hidup itu gak semudah kata-kata Mario Teguh, dan melawan rasa ketakutan saya ini sulitnya sampai ke ubun-ubun, susah banget! . Setelah beberapa menit diatas atap dengan ekspresi wajah yang memprihatinkan, akhirnya sayapun mulai bisa mengatasai ketakuan dengan cara mengikuti saran  Bapak tua tadi. Makasi ya pak atas semangat 45-nya, Bapak memang SUPER!.

Lalu Bapak tua itu memberi saya sebuah palu dan beberapa batang paku. Lalu mulailah saya memaku Reng pada kayu kaso. Reng adalah sebutan masyarakat setempat untuk kayu yang berfungsi sebagai tempat untuk mengaitkan susunan genteng pada rangka atap. Alhamdulillah, saya bisa menyelesaikan tugas saya dan bisa mengatasi ke-cemen-an. Saya merasa sukses berat pada waktu itu :D. Tapi sayang saya tidak bisa berlama-lama diatas atap karena harus ngapelin Mbak Iyan di meja Teller BCA hehe...(alasan macam apa itu??!!).

Itulah sepenggal cerita tentang aib saya dan budaya masyarakat pedesaan. Budaya yang teramat jarang saya dapatkan dari masyarakat di perkotaan, bukan bermaksud menghakimi masyarakat yang tinggal di perkotaan, tapi memang seperti itu kenyataanya. Kesibukan dan obsesi pribadi telah membuat mereka terlena. Kata-kata saya ini memang sedikit munafik karena saya sendiri juga lebih betah tinggal di perkotaan, tapi sesekali kalian harus mencoba NEKAT seperti apa yang saya lakukan dengan atap tadi :D.

Semoga saja budaya saling membatu dan gotong royong di pedesaan seperti disini akan terus terjaga, karena itulah budaya "Bhinka Tunggal Ika" yang sebenarnya. Jangan sampai “Bhineka Tunggal Ika” kita berubah menjadi “Bhineka Tinggal Kata”, karena banyak yang katanya peduli dengan persatuan, tapi hanya omong doang tak ada realisasinya.

Sudah dulu ya ceritanya, Terima kasih sudah meluangkan waktu.