Selasa, 16 Oktober 2012

Ditangan Para Penikmatnya

Untuk kesekian kalinya aku mendengar ungkapan “Musik Kampungan”. Sampai sekarang aku tidak pernah tahu spesifikasi seperti apa yang membuat sebuah lagu atau musik bisa disebut sebagai musik kampungan, musik norak, musik tidak berkualitas, atau musik ecek-ecek. Karena setahuku lagu atau musik yang mereka sebut sebagai musik kampungan ini justru sangat disukai dan mempunyai penikmat/penggemar yang jumlahnya tidak sedikit. Bahkan beberapa masyarakat yang di klaim sebagai masyarakat ‘kelas ataspun’ turut menyukainya.

Jujur saja aku bukan termasuk penikmat setia dari karya Musisi seperti Kangen Band, ST12, Wali Band, Hijau Daun Band atau semacamnya (Maaf, bukan bermaksud mendiskriminasikan beberapa pihak  dengan menyebut nama secara vulgar, tapi karena menurut yang aku dengar selama ini bahwa merekalah yang selalu menjadi objek ‘musik kampungan’) , tapi aku sama sekali tidak membenci mereka terlebih karya-karya nya. Aku hanya merasa suasana dan materi yang terdapat pada karya mereka tidak sesuai dengan seleraku. 

Yang membuat aku harus mengucapkan kata PRIHATIN bak Bapak SBY adalah ketika dunia musik yang seharusnya berperan sebagai bahasa universal, ternyata malah dipisahkan oleh sekat-sekat penilaian negatif seperti ini. Karena bagaimanapun masalah ini bisa menjadi potensi perpecahan dikalangan musisi dan penikmat musik atau bahkan bisa berdampak pada wilayah yang lebih luas. 

Aku mengambil logika seperti ini, setiap Musisi mempunyai referensi yang berbeda dalam menciptakan karyanya. Orang yang tinggal dikampung akan cenderung mempelajari apa yang ada disekitarnya, yaitu hanya disekitar kampung saja. Sedangkan orang yang tinggal dikota besar pasti akan mempunyai kesempatan lebih besar untuk mempelajari lebih banyak hal. Jadi aku rasa tidak adil juga jika kita langsung menghakimi musik mereka sebagai musik sampah, karena memang hasilnya pasti tidak akan sama.

Soal ecek-ecek, aku malah balik bertanya, apa memang pantas musik itu dibilang musik ecek-ecek?. Tunggu dulu, aku malah melihat jika banyak dari musik mereka itu telah direncanakan dengan matang. Kita ambil contoh dari setting video klip lagu Cari Jodoh dari Wali Band. Konsep nya sangat sesuai dengan isi lagu dan pasar yang akan mereka jadikan sasaran,  dengan set ditengah-tengah kehidupan masyarakat yang begitu bersahaja dengan menggunakan model video klip yang benar-benar familiar dengan masyarakat luas. Bukankah ini merupakan konsep yang matang untuk menembus pasaran?. Nah jika anda berpikir mereka membuat karya hanya untuk memenuhi permintaan pasar, terus memangnya kenapa?, apa urusan kita dengan penghidupan orang lain.

Satu lagi yang ingin aku soroti disini yaitu tentang suara sang vocalis. Pada awal karirnya, demo lagu The Rolling Stone pernah ditolak oleh beberapa Producer rekaman karena karakter suara sang Vocalis yaitu Mike Jagger tidak memenuhi standar. Tapi setelah mereka berhasil menemukan Producer yang bersedia mengorbitkan mereka, dan karya mereka dapat dilempar ke pasaran, ternyata tanggapan dari pasar begitu luar biasa dan akhirnya The Rolling Stones pun kini menjadi legenda. Padahal jika ditanya pendapat, aku lebih suka dengan karakter suara Eric Martin daripada Mike Jagger. Itu sebagai contoh.

Sekarang tolong anda nilai kedua lukisan ini.

Mona Lisa
Mona Lisa
en.wikipedia.org


The Scream
The Scream
internasional.cukupsatu.com

Jika aku disuruh membandingkan lalu memilih lukisan mana yang akan saya ambil untuk dipajang di ruang tamu, aku akan memilih lukisan Monalisa. Alasan pertama, aku lebih familiar dengan lukisan Monalisa karena aku lebih sering melihat atau sering membaca informasi tentang lukisan ini, selain itu aku lebih suka dengan dengan view nya yang berkarakter realistis. Tapi belum tentu dengan anda, mungkin saja anda akan lebih memilih lukisan The Scream karya Edvard Munch yang tercatat sebagai lukisan termahal di Dunia ini. Alasan atau motivasi yang menyebabkan anda lebih memilih likisan inipun pasti akan berbeda.  

Begitupun dalam menilai sebuah karya musik, masing-masing dari kita pasti akan memiliki latar belakang yang berbeda dalam menilai sebuah lagu. Aku suka mendengarkan lagu-lagunya Dream Theater karena sangat kagum dengan skill bermusik dan keunikan harmonisasi nada yang begitu dinamis, tapi aku juga sangat suka mendengarkan lagu-lagu Chrisye karena lagu-lagunya begitu terasa memiliki ikatan emosional dengan pengalaman hidup. Itu adalah beberapa contoh latar belakang seseorang dalam mengagumi sebuah lagu.

Ini hanya tentang pandanganku tentang musik, yang berangkat dari ketidak nyamanan ku terhadap doktrin yang telah berkembang di masyarakat ini. Aku yakin pasti banyak yang mempunyai pandangan berbeda dengan ku, dan disanalah indahnya berpikir terbuka, kita bisa membuka pintu cakrawala tanpa dikekang pemikiran satu arah. 

Jadi menurutku, secara universal tak ada karya seni yang terbaik ataupun karya seni yang  terjelek, semuanya memiliki kekuatannya sendiri, karena nilai sebuah karya seni itu berada di Tangan Para Penikmatnya.