Rabu, 03 Oktober 2012

Hujan, Remis, Pohon Jambu Dan Sahabat

Dulu, kita sangat kegirangan saat hujan datang. Tak peduli dingin, tak peduli lumpur, kita akan langsung masuk bergabung dengan rombongan butiran air yang terjatuh dari ketinggian. Tertawa lepas seakan tak mempedulikan apa-apa selain menendang-nendang bola plastik seharga seribu rupiah yang kita beli secara patungan dari warungnya Bu Rohanah. Dan setelah kita kedinginan lalu memutuskan untuk pulang, kita harus siap-siap disambit sandal jepit punya ibu.

Kita juga dapat bertahan berjam-jam ditengah-tengah aliran sungai untuk berburu Remis. Saking lamanya kita berada di dalam air, kulit telapak kaki kita pun sampai ciut mengkerut pucat pasi. Untuk mengatasi ciutnya telapak kaki kita itu, biasanya kita akan langsung duduk berjemur diatas batu besar yang sejak tadi siang terkena terik matahari. Dan saat tubuh mulai mengering, kitapun bisa menggambar Doraemon pada kulit betis kita dengan menggunakan sebatang ranting kecil, saking keringnya tuh kulit. Haaahh...tobat deh.

Saat Pohon Jambu Air dibelakang rumah Ortu ku sedang berbuah banyak, selepas sekolah kita selalu nangkring diatas Pohon Jambu itu. Berbekal garam yang sudah ditumbuk halus dengan cabai rawit yang biasa kami sebut ‘Uce’ atau ‘Uyah Cengek’ sebagai bumbu saat makan Jambu. Untuk yang tidak terbiasa dengan kombinasi rasa antara ‘Garam + Cabai Rawit + Jambu air’ ini pasti akan merasa sangat aneh, bahkan mungkin akan menganggap ini sebagai makanan Alien, tapi bagi kita ini merupakan kombinasi rasa yang eksotik dan menghasilkan rasa yang segar tiada tara. Manis, asam, asin, pedas dan berair, malah mirip dengan permen Nano-Nano kecemplung kuah rujak. Sudahlah...anggap saja ini Extreme kuliner.

Dan kebiasaan naik pohon jambu itu terhenti setelah beberpa ulat berkepala Helm khas pohon Jambu tiba-tiba nempel di bajuku. Udah tau kan kalo aku kurang akur sama yang namanya Ulat?. Dan itulah sejarahnya kenapa sampai sekarang aku suka minder kalau melihat ulat didekatku. 

Sekarang kita disini, dengan ditemani dua cangkir kopi ABC susu, kita sampai terbahak-bahak saat menceritakan kembali semua itu. Kenangan banget kan?!. Alhamdulillah...kita dipertemukan kembali setelah sekitar sebelas tahun tidak bertemu. Senang melihatmu sudah berhasil. Dan sekarang kamu terlihat gantengan dikit, tak seperti dulu, kita menjelma sebagai mahluk kecil bandel dengan perawakan hitam legam berbonus kusam. Maklum saja kita kan dulu memang berjiwa petualang semacam Si Bolang, yang suka menelusuri sungai dan hutan.

Walaupun sekarang kita tidak bisa ujan-ujanan lagi, berburu Remis lagi, dan makan Jambu diatas pohonnya lagi, karena memang sekarang Pohon jambunya sudah menjadi korban keganasan gergaji Bapak ku. Tapi persahabatan yang sudah terjalin semenjak kita kecil ini harus tetap terjaga, dan semoga akan tetap terjaga. Karena sahabat itu...Selamanya.