Jumat, 12 Oktober 2012

"Politik Mercusuar"

Punya teman yang kecanduan show off itu memang terkadang sanggup membuat perasaan menjadi was-was, saat sedang barengan sama dia seakan nasib kita sangat tergantung pada situasi sekeliling saat itu. Oke lah jika memang hal yang dipamerkannya itu dapat dipertanggung jawabkan sebab akibatnya, tapi jika itu hanya OmDo (Omong Doang), ujung-ujungnya kan orang yang bareng sama dia juga yang dongkol.

Saat sedang ngobrol berdua, sikap pamernya itu bisa jadi penghangat suasana. Yaa...seenggaknya kami gak akan kehabisan bahan obrolan lah, walaupun yang menjadi narasumber sering kali dia, aku sih paling cuma bisa banyak banyak bilang “Oh ya?!”...“Oo...gitu ya?!”...”Woow!!!”...”Masa sih?”...”Hmmm!!!” atau terkadang  “...” (maksudnya speechless karena omongannya yang gak masuk akal) :D.

Tapi situasi akan berbanding terbalik saat berada ditempat umum atau sedang ngobrol sama orang-orang yang tidak mengenal dia dengan baik. Sebagai seseorang yang terlanjur berstatus temannya, aku harus menyiapkan mental untuk menghadapi ‘Jlebb Moment’ saat dia sedang berkicau tentang apa yang dia punya atau tentang apa yang dia pikirkan.

Contohnya dulu aku pernah jalan dengan spesies semacam ini.  Karena ‘betisnya dua’, maka kita panggil saja teman saya ini dengan nama ‘Tiswa’.  Nah waktu itu aku dan Tiswa makan-makan di Riung Panyaungan (Rumah Makan Sunda) di daerah Banjaran-Bandung. Dengan pede nya dia ngomong sama sang Waiters “Kang...saya mau menu yang paling special di sini!!!”. Sang Waiters pun menunjuk salahsatu menu yaitu Gurame Bakar. “Oke...yang ini aja Kang” kata Tiswa dengan renyahnya.

Entah kenapa perasaanku tiba-tiba mulai gak enak, apalagi saat dia bilang “Tenang aja Ro, pokoknya gue yang bayarin!!!”. Yang ada dipiranku saat itu adalah “Awas lo, jangan sampe ujung-ujungnya gue bilang Kampret sama lo!!!”.  Singkat cerita kami sangat menikmati hidangan pesanan kami itu, dan saat bill tagihan datang, saat itulah Jlebb Moment itu dimulai. “Ro...tolong bayarin dulu yak, uang gue gak cukup nih, ntar gue ganti deh (kalo inget)” itulah yang Tiswa katakan saat melihat bill tagihan, maklum jumlah tagihannya emang lumayan Woww!!!. Penginnya sih aku ngomong “Iddiiih...bayar aja sama hape keluaran terbaru lo itu, habislah perkara”, tapi gak tega juga. Aku hanya bisa bilang “Kampret lo!!!”, yah mau gimana lagi dong . Untung aja aku gak pegang panci punya Ibue nya Mas Rawins, kalo sampai tuh panci ada ditanganku, mungkin kepala si Tiswa udah benjol terkena samplukan Paci itu. 

Ada lagi yang bikin dongkol. Spesies jenis ini biasanya punya gadget yang up to date, omongannya juga selangit, pokoknya hitech banget deh. Tapi saat ditanya WiFi aja dia langsung pasang muka melongo sambil nanya “wipi itu apaan yak?!”. Dan biasanya dia dia punya hape yang ‘up to date’ tapi dengan saldo pulsa yang ‘almost death’, makanya dia sering bilang "Minta SMS dong, pulsa gue kering nih, kantong gue juga..." #jlebb. Miris sekaligus tragis buat kita, soalnya kita bisa mati malu dihadapan umum.

Pepatah mengatakan "Tong kosong nyaring bunyinya", kalo kantong kosong mending diem aja lah... 

Yahh...gimanapun juga kita juga tidak bisa menghakimi siapapun atas apa yang memang bisa membuat dirinya nyaman. Mungkin dia bisa menikmati hidupnya dengan cara ingin dipandang keren oleh orang lain walaupun pada kenyataanya kere. Tapi bagaimanapun sebagai teman sudah sepantasnya untuk saling melengkapi, termasuk teman dengan spesies semacam Tiswa diatas. Kami juga saling melengkapi kok, lebih tepatnya saling melengkapi kepedihan hati.