Minggu, 17 Februari 2013

Arti Kata Hong Pada Permainan Ucing-Ucingan


Masih nyambung dengan postinganku yang berjudul Ucing-ucingan (Ucing Sumput), aku jadi tertarik untuk  mencari informasi lebih lengkap tentang permainan tradisional Sunda ini. Dan ada satu hal yang baru aku ketahui tentang kata "Hong!" yang diteriakan sang Ucing saat dia menemukan kawannya yang sedang nyumput (bersembunyi).

Menurut penjelasan Muhammad Zaini Alif yang merupakan seorang Dosen Seni Rupa di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) dan pecinta mainan rakyat, kata "Hong" pada permainan Ucing-ucingan mempunyai arti "ketemu" atau "bertemu". Arti lebihnya adalah bertemu dengan Tuhan.

Ketika si pemain yang bersembunyi terlihat oleh si Ucing (sang Kucing), maka dia (si pemain) yang kahongkeun (di-Hong-kan) tidak bisa bermain lagi, selanjutnya hanya bisa menyaksikan teman-temannya bermain. Jadi secara filosofis, permainan ini mendidik anak-anak untuk mengerti tentang nilai-nilai ke-Tuhan-an. Apabila manusia sudah di-Hong-kan oleh Tuhan maka dia harus bertemu dengan Tuhan, maka manusia itu tidak bisa kembali "bermain" di dunia.

Kang Zaini yang merupakan pendiri dari "Komunitas Hong" ini juga menjelaskan bahwa dahulu, permainan memang tak sekedar acara bermain. Permainan adalah hal yang dianggap serius sehingga ada ahlinya. Dalam naskah Amanat Galunggung (Abad ke-15), dalam Bab Saweka Dharma Sanghyang Siksanandang Karesian, tersebut kata Hempul. Hempul adalah sebutan bagi orang yang ahli membuat mainan, cara bermain, sampai pada filosofi mainan dan permainan tradisional.

Jadi, betapa bermaknanya permainan yang diciptakan oleh nenek moyang kita dahulu. Sehingga rasanya akan sangat disayangkan jika permainan-permainan tradisional yang kita miliki ini sampai hilang ditelan jaman.