Jumat, 01 Februari 2013

Berpikir + Berani Berekspresi = Ide

Idea
Ting!!! : Arra
Sebagai seseorang yang selalu ingin mengasah kemampuan, khususnya dalam bidang yang aku sukai yaitu disain grafis, ketika ada yang memohon untuk dibuatkan sebuah disain gambar/logo, seringkali aku harus berpikir keras untuk memulai sebuah project, bahkan aku sering melihat hasil karya orang lain sebagai referensi. Sebenarnya bisa saja aku menggunakan ide yang seadanya, tapi menurutku sebuah karya (apapun itu) akan menjadi lebih bernilai ketika diselesaikan dengan mengerahkan energi semaksimal mungkin, walaupun hanya menggunakan teknik yang paling sederhana. Mengenai hasil, setidaknya baik menurut kita, karena kalau sebuah karya sudah dilempar ke khalayak ramai, itu sudah diuar kendali kita, seleralah yang akan berperan disana. Merujuk pada ungkapan salah seorang Blogger kebanggaanku,"Selera memang tidak bisa diperdebatkan".

Berbeda halnya ketika inspirasi datang dengan sendirinya, aku tinggal menuangkan imajinasi yang sudah terekam dalam pikiran kedalam media gambar yang diproses secara digital. Tapi bukan berarti tanpa harus berpikir, karena proses finishing atau penyempurnaan bukanlah perkara mudah.

Tapi harus aku akui, disatu waktu dalam menggali sebuah ide terkadang aku juga merasa menemukan jalan buntu dalam berpikir. Aku yakin sebenarnya bukan karena tidak mampu, tapi karena rasa MALAS untuk terus menggalinya, sehingga keputusan 'menyerah' untuk sementara pun diambil. Dan aku rasa itu sangat manusiawi.

Untuk beberapa orang yang bekerja dalam teamwork mungkin dapat menggunakan metode Brainstorming dalam menggali sebuah ide. Brainstorming juga dapat melatih kecakapan berpikir dalam mencari dan  menyampaikan sebuah ide secara kreatif. Walaupun (menurut pengalamanku) terkadang cara ini juga tidak selalu berakhir dengan hasil yang efektif.

Contohnya, dulu saat mesih bekerja di kantor lamaku, aku dan kawan-kawan melakukan brainstorming dalam menentukan metode Stock Code and Name yang paling efektif untuk pelaksanaan penghitungan stock barang. Tapi dalam pelaksanaannya, kerbanyakan partisipan hanya terdiam membisu tanpa ide-ide yang diharapkan keluar dari mulutnya, sehingga proses penggalian ide pun tak berjalan dengan maksimal. Mungkin ini karena kemampuan eksplorasi pikiran dan kemampuan public speaking yang berbeda pada setiap orang.

Dari situ aku jadi mempunyai kesimpulan, ada dua kemungkinan yang menyebabkan seseorang memutuskan untuk mengatakan "kehabisan ide". Pertama, karena dia tidak bersedia untuk berpikir lebih mendalam dalam menggali sebuah ide. Kedua, dia merasa ragu dan tidak berani untuk mengekspresikan hal-hal yang sudah terekam dalam pikirannya.

Bagaimana menurut anda?