Senin, 25 Februari 2013

Paciwit-Ciwit Lutung (Injit-Injit Semut)

Paciwit-ciwit Lutung
"Paciwit-ciwit Lutung, si Lutung pindah ka luhur"

Bagi orang yang berasal dari suku Sunda atau orang yang sempat menghabiskan masa kecilnya di daerah Sunda, pasti pernah menyanyikan dan masih ingat dengan penggalan bait lagu diatas. Ya, itu adalah lagu yang dinyanyikan sebagai pengiring untuk permainan Paciwit-ciwit Lutung (Injit-injit Semut)

Aku yakin sebagian besar orang Indonesia pasti sudah tahu bagaimana cara memainkan permainan ini. Yaitu si pemain yang minimal berjumlah dua orang ini saling menyusun tangannya yang disusun keatas (bertumpuk / bertingkat). Tangan yang yang berada diatas akan mencubit tangan yang ada dibawahnya. Ketika satu bait lagu selesai dinyanyikan, maka tangan yang berada paling bawah akan berpindah ke bagian paling atas sambil mencubit tangan yang berada dibawahnya, dan begitu seterusnya.

Ada yang menarik ketika aku menyimak via Youtube salah satu presentasi yang menawan dari Kang Zaini Alif di salah satu program event TEDx Jakarta. Dalam kesempatan itu beliau sempat mengungkapkan bahwa permainan Paciwit-ciwit Lutung ini mengajarkan tentang emosi. Ketika tangan kita berada dibagian paling atas, kita bisa mencubit tangan orang lain (yang berada dibawah) dengan sekeras-kerasnya. Dengan begitu orang lainpun akan melakukan hal yang sama pada tangan tangan dibawahnya, dan ternyata masih ada tangan kita yang berada dibawah, itu berarti kita masih kebagian rasa sakit yang sama seperti rasa sakit yang kita buat untuk orang lain saat tangan kita berada dibagian paling atas. Kang Alif mengatakan "...ketika kita menyakiti orang lain sebenarnya yang sakit adalah kita sendiri"

Ini masih tentang filosofi. Filosofi dari permainan anak-anak yang nenek moyang kita ciptakan dengan penuh makna.