Minggu, 10 Februari 2013

Ucing-ucingan (Ucing Sumput)

Melihat anak-anak kecil yang sedang bermain Ucing-ucingan (Kucing-kucingan), rasanya aku tengah berada didalam lorong waktu yang membawaku ke masa kecil dulu. Indah rasanya. Asa warara'as, gan!.  

Aku jadi ingat, dulu aku dan teman-teman hampir setiap sore jika cuaca cerah, kami selalu mengisinya dengan bermain ucing-ucingan. Dengan bertelanjang kaki disertai riuh ramainya keceriaan, kami berlarian di lapangan tanah merah, yang kini diatas lapangan itu sudah ngajegir sebuah rumah gedong milik orang kaya.

Salah satu permainan ucing-ucingan yang sering kami mainkan adalah permainan Ucing Sumput (Petak Umpet). Sudah tahu kan bagaimana cara bermain petak umpet?, ya aturan permainan yang kami gunakan waktu itu juga hampir sama dengan aturan permainan petak umpet yang berlaku sekarang. Pertama, semua pemain hompimpa/suit untuk menentukan siapa pemain yang menjadi Ucing (Sang Kucing).  Tapi kami mempunyai cara sendiri dalam menentukan siapa yang jadi Ucing. Caranya, kabeh barudak (semua pemain) membentuk posisi berdiri melingkar dengan menjulurkan tangan yang terkepal ke tengah lingkaran, lalu salah seorang dari kami menyentuh satu persatu kepalan tangan pemain secara berurutan berputar searah jarum jam sambil menyanyikan lagu "dat dit dut". Nah, tangan pemain yang terakhir tersentuh tepat saat lagu habis, dialah yang menjadi Ucing (Kucing). :D

Kayaknya aku masih ingat deh lagu "dat dit dut", kalo gak salah sih kata-katanya begini : 

Dat dit dut daun sampeu
Saha nu hitut eta nu ngambeu
Dibawa ka Saung butut
Ai balik pak burusut! 

Nah, saat Ucing sudah ditentukan, Pemain yang jadi Ucing harus meungpeun (tutup mata) sambil ngitung "Ji wa lu pat ma nep juh lan pan luh" atau berhitung dari 1-10 gitu deh. Dan barudak (pemain) yang tidak menjadi Ucing langsung paburiak nyarumput (ngumpet). 

Sang Ucing harus mencari dan menemukan teman-temannya yang ngumpet sambil menjaga butul. Butul adalah sermacam patok yang menjadi tempat tumpuan sang Ucing. Patok ini bisa berupa tiang, pohon, tembok yang diberi tanda, atau bisa juga berupa batu yang bisa diinjak. Ketika sang Ucing melihat/menemukan salah satu temannya yang ngumpet tadi, Ucing harus langsung mengucapkan "Hong" sambil mengucapkan nama teman yang dia temukan. Misalnya "Hong Unyil ucing supuuut", begitu. Pokoknya jangan sampai salah menyebutkan nama, karena kalau sampai salah, berarti semua pemain yang sudah ditemukan diperbolehkan untuk bersembunyi kembali.

 Setelah itu sang Ucing harus bergegas memegang/menginjak Butul-nya (patoknya). Dalam hal ini pemain yang ditemukan bisa adu cepat dengan sang Ucing untuk memegang/menginjak Butul, jika si pemain yang ditemukan dapat menyentuh Butul terlebih dahulu daripada sang Ucing, maka hukumnya sama dengan salah menyebutkan nama, yaitu semua pemain yang sudah ditemukan diperbolehkan untuk bersembunyi kembali, dan sang Ucing harus berusaha dari awal lagi. 

Sabar nya, Jang! da hirupmah peurih...hiks

Begitulah seterusnya. Jika sang Ucing dapat menemukan seluruh temannya dengan sukses, maka pemain yang paling pertama ditemukanlah yang menjadi Ucing selanjutnya.

Tapi aku punya trik agar tidak mudah ditemukan oleh Ucing. Kami kan pasti memakai baju dengan model dan warna yang berbeda-beda, nah saat bersembunyi aku bertukar baju dengan salah seorang teman (sebut saja Keti Peri) yang sama-sama ngumpet. Lalu aku sengaja memperlihatkan lengan baju teman yang aku pakai pada sang Ucing.  Nah dia pasti langsung bilang "Hong Keti Peri ucing sumpuuut!", ketika keluar ternyata yang berada dibalik baju tersebut adalah aku, otomatis dia salah menyebutkan nama dooong, dan semuanya ngumpet lagi deh. Bahkan salah satu temanku yang jadi Ucing waktu itu pernah sampai pundung karena aku perlakukan seperti itu...hik hik hik hik...

Ada lagi sih beberapa aturan yang belum aku ceritakan, tapi intinya sudah aku bahas diatas. Apabila diantara anda yang ingin menambahkan, boleh juga kok. Pokonamah urang nganjang ka jaman beheula yuk! hehe...

Tapi sayang, sekarang sudah sangat jarang anak-anak yang bermain ucing-ucingan, boleh dibilang hanya beberapa saja. Apalagi di daerah perkotaan kayak di Bandung, mereka malah main kayak gini :


Untuk adik-adik, permainan seperti pada video diatas tidak baik untuk dilakukan yaa...BERBAHAYA! 

Tak hanya Ucing Sumput saja yang sering kami mainkan pada waktu itu, tapi ada Ucing Bancak, Ucing Nagog, Ucing Tidur dan Ucing Babet. Tapi alhamdulillah kami tidak sampai pernah bermain Ucing Garong, soalnya kata Nenek itu berbahaya. Bisa bikin mumet, katanya.

Untuk permainan Ucing-ucingan yang lain, mungkin akan aku ceritakan pada postinganku selanjutnya. Mun inget eta oge.

Hatur nuhun dan terima kasih. :)