Jumat, 08 Maret 2013

Kok Dilewat?

Alhamdulillah, beberapa minggu terakhir ini Jum'atan-ku selalu mendapatkan posisi pada shaf kedua, itu karena aku selalu mempunyai kesempatan berangkat ke Mesjid lebih awal. Tapi ada suasana berbeda pada Jum'atan tadi siang, yaitu terdapat enam orang anak laki-laki yang duduk dengan tertibnya pada shaf ketiga. Bagiku ini adalah suatu kemajuan, karena minggu-minggu sebelumnya anak-anak itu selalu duduk di shaf paling belakang sambil berisik, tapi tadi siang posisi mereka maju menjadi duduk tertib pada shaf ketiga. Kereeen!.

Ditempat kami ada kebiasaan, setelah seseorang melakukan shalat sunnah qabliyah, maka dia akan mengajak orang-orang yang berada didekat posisi duduknya untuk bersalaman. Begitupun aku, setelah aku selesai melakukan shalat sunnah qabliyah, aku langsung menyalami orang yang berada di depan, di samping kiri, di samping kanan dan dibelakangku, termasuk keenam anak yang berada di shaf ketiga itu, yaitu yang berposisi  tepat di belakngangku.  

Tepat disebelah kananku, ada tempat yang masih kosong, tak lama kemudian datanglah seorang bapak yang mengisi tempat kosong itu, lalu dia langsung melakukan shalat sunnah qabliyah. Setelah selesai melakukan shalat sunnah, dia pun menyalami orang-orang di sekitar posisi duduknya, aku yang tepat disamping kirinya, orang di depannya, di samping kanannya, dan orang-orang yang berada di belakngnya, kecuali keenam anak itu. Ya, bapak itu menyalami semua orang dewasa yang berada di sekelilingnya termasuk aku, tapi bapak itu TIDAK menyalami keenam anak itu. 

Aku perhatikan, keenam anak itu hanya melongo, seakan dalam benaknya mereka berkata "Whooaaaat...sayah dilewat??? tobaaaat...". 

Beneran deh, ingin sekali rasanya aku bertanya pada bapak itu "Maaf, Pak, apa alasan Bapak tidak menyalami keenam anak itu?", tapi sayangnya aku tak cukup mempunyai keberanian untuk bertanya pada bapak itu. #payah 

Karena tidak berani bertanya, jatoh-jatohnya aku malah jadi jengkel, jengkel pada bapak itu, jengkel karena dia tidak menyalami keenam anak itu. Aku juga bingung kenapa aku bisa jengkel, karena memang tidak ada aturan yang mewajibkan menyalami semua orang (termasik anak kecil) setelah shalat sunnah qobliyah. 

Apakah kejengkelanku itu wajar, ataukah aku yang terlalu berlebihan dalam menanggapi kejadian itu?