Kamis, 16 Mei 2013

Apa Kabar Layang-Layang?


Heii...lihat anak-anak kecil yang sedang berlarian itu, dengan telanjang kaki dan masing-masing membawa sebatang pohon Singkong mereka mengejar sebuah layang-layang putus. Layang-layang itu memang tak terlalu besar, jelek pulak, kertasnya saja sudah bolong, tapi itu tak menyurutkan semangat mereka untuk berlomba-lomba mendapatkan layang-layang tersebut, tentunya sambil berteriak-teriak dengan suara cempreng yang bisa membuat sakit gendang telinga “...awaaass, ku aiing!!! Awaaaass...beunang ku aiiiing!!!”

Akhirnya salah seorang dari mereka pun mendapatkan layang-layang itu. Kakinya yang terluka karena berlari di tanah sawah yang kering tanpa alas kaki pun seakan sudah dianggapnya  terbayar lunas dengan pencapaiannya itu. Luka ditangan karena tersayat gelasan (tali/benang layangan) pun tak ia pedulikan. Yang ada dipikirannya adalah "aku harus segera menerbangkan layangan ini, dan ngadu lagi!!!"

Dengan pasti ia menantang angin agar bertiup lebih kencang "kiuk...kiuk...kiuuuuuuukk!!!" serunya, memanggil angin. Jidatnya yang kian legam seakan menjadi bagian yang berada di garis depan dalam  melawan ganasnya terik Matahari. 

Layang-layang pun kini telah terbang, benang kian diulur untuk mencari lawan. Yapp...penantang pun datang, benang sudah saling mengait, adu strategi tarik ulur berlangsung seru dan tanpa ampun. Dan..."Yaaah...putuus." Dia kalah.

Ya, layang-layang yang dia dapatkan dengan susah payah tadi kini sudah lenyap dari genggaman. Diiringi suasana redup senja, dia dan merekapun berjalan beriringan untuk pulang, tentunya dengan rasa bahagia tanpa penyesalan. 

Sayangnya, semua kejadian itu hanya terjadi dalam kenanganku saja. Kenangan yang aku layangkan saat aku termangu di jalan setapak tengah sawah yang menjadi tempat menerbangkan layang-layangku dulu. Kini, tak terlihat lagi anak kecil yang berlarian mengejar layang-layang. Kini, tak terdengar lagi teriakan anak kecil yang berdebat memperebutkan sebuah layang-layang. Haaaaahhh...rasanya aku rindu dengan suasana itu.

Angin terasa semakin dingin, suasana semakin remang, puji-pujian mulai berkumandang, seakan memintaku untuk keluar dari kenangan. Ya sudah, semua sudah tak sama, mungkin memang sudah bukan masanya. 

Dan aku hanya bisa bergumam, apa kabar layang-layang?