Kamis, 01 Agustus 2013

Nilai Sebuah Keikhlasan

Mungkin ini akan menjadi pertanyaan bodoh dariku. 

Seseorang yang aku kenal dan termasuk sangat aku hargai memohon bantuanku. Pastinya tanpa pikir panjang lagi aku langsung mengiyakan permohonan beliau tersebut. Dan tentu saja aku akan melakukanya dengan senang hati.

Bagaimanapun, dalam hal ini sama sekali aku tidak berharap apalagi berniat untuk mengharapkan balasan atas pertolongan yang sudah aku berikan. Ikhlas. Itu saja. 

Tapi, ketika aku selesai menunaikan tugas yang diberikan, beliau pun malah berusaha memberiku bayaran (berupa uang, tentunya). Sontak saja, secara halus aku berusaha untuk menolak pemberiannya tersebut. Karena niat awalku menerima permohonannya adalah ikhlas. Tanpa pamrih. Tapi beliau tetap saja memaksa. 

"Jangan anggap ini sebagai upah! Jika kamu tidak menerima pemberian saya ini, kelak saya pun tidak berani memohon bantuanmu lagi, karena saya anggap kamu sudah menolak permohonanku sejak saat ini." Kurang lebih begitulah ungkapnya.

Karena aku sangat menghormati beliau, aku tak berani lagi berontak. Ya sudah, aku terima saja, atas nama  menjaga hubungan baikku dengan beliau.

Tapi ada pertanyaan yang mengganjal didalam hati. Apakah bayaran yang telah aku terima berupa uang itu dapat mengurangi nilai sebuah keikhlasan?