Rabu, 04 Februari 2015

Memasang 'Pull Up Bar' di Lapang Lokasana Ciamis

Lega banget rasanya, kalau kata orang sunda mah "asa bucat bisul", karena mimpi kami membangun Pull Up Bar di Lapangan/Taman Lokasana Ciamis akhirnya bisa terwujud. Tapi sebelum saya bercerita lebih jauh, saya perkenalkan para anak muda harapan bangsa yang sudah rela mengorbankan sebagian harta dan tenaganya dalam usaha mewujudkan rencana yang sudah cukup lama tertunda ini. 


Dari sisi layar sebelah kanan adalah:
  1. Kang Erik. Seorang anggota tim SAR, dan beliau lah yang pertama kali saya ajak bicara tentang rencana proyek ini. 
  2. Irwan. Anak muda yang saya kenal beberapa hari lalu saat sedang berolahraga di Lokasana, dan dia begitu antusias saat saya ajak bicara tentang rencana proyek ini. 
  3. Galang. Anak muda yang sedang mempersiapkan diri untuk mengukuti tes pendaftaran Akmil, dia yang paling rame diantara kami. 
  4. Restu. Do'i temannya Galang, jadi sudah bisa nebak, kan, gimana do'i. 
  5. Eri. Mahasiswa akuntansi yang punya pacar bernama Andi (Andi adalah seorang gadis lho ya!). Kadang saya berpikir kalau nama mereka tertukar.
  6. Firman. Ah mungkin dia lagi lihat-lihat foto mantannya. Kita antepin ajah. 
  7. Saya. Manusia yang selalu lebih nyaman berada di belakang kamera karena sudah muak dibilang mirip sama Takeru Sato. 

Sebenarnya masih ada beberapa orang lagi yang berpartisipasi, tapi mereka tidak bisa hadir karena kesibukan.  

Dana pembangunan Pull Up Bar ini kami dapat secara patungan dan pengerjaannya kami lakukan secara swadaya, karena jika mengharapkan campur tangan langsung dari pihak pengelola, gak tahu kapan jadinya, makanya kami lakukan saja sendiri. Lagipula kepengelolaan Taman Lokasana juga masih simpang siur akibat kasus korupsi dalam proyek pembangunan taman ini beberapa tahun yang lalu. 

Usaha kami sempat tertunda karena masalah perijinan. Pada awalnya kami kira ijin cukup kami dapatkan dari pihak pengurus taman, tapi ternyata untuk memasang beberapa tiang di area Taman Lokasana, kami juga harus mengantongi ijin dari pihak Disparbud (Dinas Pariwisata dan Kebudayaan). 


Begitu kami mendapatkan ijin dari Disparbud, besoknya kami langsung melakukan pemasangan tiang. Dengan modal nekat kami mulai bekerja, maklum tak satupun diantara kami yang ahli dalam urusan bangunan. Akibatnya, proses pemasangan tiang banyak diselingi kejadian begininya daripada ngaduk semennya: 


Ya, kami tahu betapa jantannya kami...

Setelah seharian bekerja keras disertai cucuran keringat, darah, tapi tanpa air mata, akhirnya proses pemasangan tiang selesai. Walaupun dengan tubuh gemetar karena telat makan tapi kami tetap semangat, semangat untuk pulang, abisnya capek dan laper bingit. 


Nah, hasilnya beda banget, kan? Sesuatu yang dibuat dengan niat tulus dan semangat yang besar pasti akan menghasilkan sesuatu yang bagus pula. Setelah ini siapapun boleh memakainya, karena ini bukan menjadi milik kami, tapi milik semua. Dan kami harap teman-teman yang lain juga turut menjaga dan merawatnya. 

Ti urang...keur urang...nu urang sarerea!

Oh iya, saat kami sedang bekerja memasang tiang, kami kedatangan seseorang yang katanya aktif dalam bidang olahraga Parkour. Katanya ia juga bersedia menyumbangkan dana untuk menambah beberapa alat lagi. Wah ini keren banget, kan? Nambah teman, nambah silaturahmi, nambah pengalaman. Moga kedepannya akan lebih banyak lagi yang proaktif. Semangat!