Senin, 29 Juni 2020

Hobi Berkebun, Dari Antidepresan Hingga Ketahanan Pangan

Pernah, gak, sih merasa jenuh dengan segala rupa kepenatan kota? Lalu ingin liburan ke suatu tempat yang tenang dengan segala keasrian alam? Ya, itulah yang duulu saya rasakan. Memiliki hobi berkebun tak pernah terlintas dalam benak saya sebelumnya, jangankan berkebun, menginjakkan kaki di tanah tanpa alas kaki saja rasanya sudah risih. 

Namun, seiring berjalannya waktu, bertambahnya pengalaman dan perubahan lingkungan, pola pikir dan minat seseorang dapat berubah, bahkan hingga 180 derajat. Seperti yang saya alami, disebabkan oleh rasa jenuh dengan suasana perkotaan yang sungguh membuat penat, membuat saya memiliki ketertarikan khusus dengan suasana alam, dan akhirnya sering melakukan perjalanan ke tempat dengan suasana alami, seperti hutan.

Semakin jatuh cinta dengan alam, menumbuhkan minat saya pada tumbuhan, saya mulai jatuh cinta pada tumbuhan dan merasa lebih tenang jika dapat melihat berbagai macam tumbuhan secara langsung. Akhirnya saya mulai mengenal konsep Urban Farming yang pernah saya ceritakan disini


Rupanya tak hanya sampai sana, minat saya pada tumbuhan semakin berkembang, yang awalnya hanya ingin mengoleksi tanaman hias untuk membuat halaman rumah lebih asri, akhirnya saya mulai berpikir untuk menanam tanaman yang dapat dikonsumsi atau jenis tanaman pangan dalam skala yang lebih luas dari hanya sekedar di halaman rumah. 

Setelah dipertimbangkan, akhirnya ada rasa ragu untuk mulai mengelola tanah yang lebih luas, karena saya belum memiliki pengetahuan dalam bertani dan saya juga harus bersedia untuk melakukan semua kegiatan bercocok tanam di ladang, seperti mencangkul, menyemai dan lainnya yang pasti akan sangat melelahkan dan kotor. Namun, ada dorongan yang besar dalam diri saya untuk mencoba, untuk belajar hal baru yang benar-benar jauh dari bidang keahlian yang saya miliki. Sebelumnya sama sekali tidak memiliki minat menjadi seorang petani. 

Seakan Tuhan merestui minat baru saya, ada saudara menawarkan lahannya kepada saya untuk dikelola, karena sudah puluhan tahun terbengkalai dan tidak produktif. Lahannya cukup luas berupa huma. Karena merasa diberi jalan, saya pun terima tawaran tersebut, padahal saya sama sekali belum memiliki pengalaman sedikitpun dalam bertani. 

Tekat saya adalah harus mengelola lahan sendiri, mulai dari membuka lahan hingga proses penanaman dilakukan oleh saya sendiri, dalam arti saya harus turut serta dan terjun secara langsung dalam proses pengelolaan lahan, karena saya ingin belajar dan ingin memiliki bahan untuk evaluasi untuk kedepannya. 

Jahe, Kacang Tanah dan Singkong menjadi tanaman yang dipilih untuk mengisi lahan yang saya kelola. Hingga saat ini usia kebun sudah berusia 5 bulan terhitung sejak menanam. Untuk kacang tanah sudah saya panen pada usia 3 bulan, hasil panennya terhitung cukup memuaskan walau tidak termasuk dalam kategori maksimal. 


Untuk Singkong belum waktunya dipanen karena usia panen Singkong adalah pada usia 7 bulan dan untuk Jahe pada usia 12 bulan. Untuk musim tanam yang pertama ini, saya tidak menargetkan untuk dapat menjual hasil panen, namun untuk pembibitan yang akan saya pergunakan pada musim tanam selanjutnya, maklum di daerah saya untuk bibit Jahe khususnya Jahe Merah cukup sulit didapat, untuk mendapat benih Jahe untuk musim tanam sekarang saja saya harus pergi ke kota sebelah bahkan harus pesan secara online dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. 

Proses menanam saya bukan tanpa masalah, rupanya banyak sekali tantangan yang harus dihadapi. Mulai dari masalah mengairan hingga hama pada tanaman. Contohnya hama pada sebagian tanaman Jahe yang mengalami daun menguning, namun disinilah kesempatan saya untuk belajar. Jangan menyerah! 


Pelipur lara dari itu semua adalah sebagian dari yang saya tanam sudah bisa dinikmati, walau baru sampai pada tahap skala rumah tangga. Rasanya benar-benar menyenangkan, walau terkesan sederhana namun memiliki makna yang tinggi, mungkin disinilah arti dari ketahanan pangan mandiri.


Berawal dari sekedar hobi berkebun, mulai timbul gagasan-gagasan dalam benak ini. Salah satu keinginan dalam benak saya adalah melakukan pemanfaatan lahan terbengkalai dengan sistem kerja sama bagi hasil dengan pemilik tanah, mengubah lahan yang terlantar menjadi produktif, dalam hal ini saya mulai melakukan lobi dengan pihak Karang Taruna setempat untuk bekerja sama merealisasikan gagasan saya ini. Selain ingin melakukan pemanfaatan lahan yang tidak produktif, saya juga ingin mengajak generasi muda untuk belajar bertani dan mengubah paradigma bahwa menjadi petani itu adalah profesi yang tidak keren. 

Sektor pertanian adalah sektor strategis bagi bangsa ini, walau seringkali tidak mendapat keberpihakan dari pemerintah, namun harus tetap ada regenerasi yang dibekali dengan kemampuan dalam berinovasi. Bangsa ini harus bisa berdaulat pangan, dimulai dari ketahanan pangan mandiri. Tetap semangat berkebun, jangan minder mejadi petani, karena Petani adalah penolong negeri.