Sabtu, 27 Juni 2020

Hubungan Personal Hygiene dengan Kejadian Scabies




BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penyakit kulit merupakan suatu penyakit yang menyerang pada permukaan tubuh, dan disebabkan oleh berbagai macam penyebab (Susanto & Ari 2013). Penyakit kulit dapat juga disebabkan oleh jamur, virus, kuman, parasite. Lingkungan yang kotor akan menjadi sumber munculnya berbagai macam penyakit kulit. Faktor-faktor yang mempengaruhi tingginya prevalensi penyakit kulit yaitu iklim yang panas dan lembab (Candra, Asmuji, Permatasari 2015). 

Kesehatan kulit perlu diperhatikan, karena kulit tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia (Muttaqin & Sari 2011). Penyakit kulit banyak dijumpai di Indonesia, hal ini disebabkan karena Indonesia beriklim tropis. Iklim tersebut yang mempermudah perkembangan bakteri, parasit maupun jamur. 

Menurut data Depkes RI prevalensi penyakit kulit di seluruh Indonesia di tahun 2012 adalah 8,46 % kemudian meningkat di tahun 2013 sebesar 9%. Penyebab penyakit kulit selain bakteri, parasit, maupun jamur yaitu kurangnya pengetahuan tentang pentingnya menjaga kebersihan kulit. Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Lasaib, Joseph & Akilli (2015) sebesar 84,2 % menyimpulkan bahwa mayoritas responden mengalami kejadian penyakit kulit. 


Di Indonesia pada tahun 2011 didapatkan jumlah penderita scabies sebanyak 6.915.135 (2,9%). Jumlah ini mengalami  peningkatan pada tahun 2012 yang jumlah penderita scabies diperkirakan 3,6% dari jumlah penduduk ( Depkes RI, 2012 )

Determinan penyakit scabies tidak terlepas dari faktor host (manusia), agent (tungau), dan environment (lingkungan). Penelitian ini menelaah determinan terhadap kejadian scabies dari aspek karakteristik masyarakat, perilaku (pengetahuan, sikap, kebersihan diri) dan penyediaan air bersih. 

Hendrik L. Blum (1974) menyatakan bahwa ada empat faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan, baik kesehatan individu maupun kesehatan masyarakat. Keempat faktor tersebut yaitu keturunan, lingkungan, perilaku dan pelayanan kesehatan. Disamping berpengaruh kepada kesehatan, juga saling berpengaruh antara satu sama lainnya. Status kesehatan akan tercapai secara optimal bilamana keempat faktor tersebut secara bersama-sama mempunyai kondisi yang optimal pula. (Notoatmodjo, 2007).

Scabies menurut WHO merupakan suatu penyakit signifikan bagi kesehatan masyarakat karena merupakan kontributor yang substansial bagi morbiditas dan mortalitas global. Prevalensi scabies di seluruh dunia dilaporkan sekitar 300 juta kasus pertahunya (Nugraheni, 2016)

Dalam mencegah terjadinya penyakit scabies, maka perlu menjaga personal hygiene yang baik. Personal hygiene adalah perawatan diri yang dilakukan untuk memelihara kebersihan dan kesehatan baik secara fisik maupun mental (Saputra 2013). 

Berpenampilan bersih, harum, dan rapi merupakan dimensi yang sangat penting dalam mengukur tingkat kesejahteraan individu secara umum (Mubarak 2015). Pemeliharaan personal hygiene sangat menentukan status kesehatan, dimana individu secara sadar dan atas inisiatif pribadi menjaga kesehatan dan mencegah terjadinya penyakit kulit. Bila seseorang memiliki penerapan personal hygiene yang kurang, maka dapat mempermudah pertumbuhan jamur yang ada di kulit dan menyebabkan terjadinya penyakit kulit (Raples 2013). 

Hal ini didukung dari hasil penelitian Ni’mah dan Badi’ah (2015) sebesar 68,6% menyimpulkan bahwa mayoritas responden mengalami kejadian penyakit kulit disebabkan karena personal hygiene yang masih kurang. Personal hygiene yang masih kurang mengakibatkan terjadinya penyakit kulit yang biasanya terjadi di lingkungan yang padat hunian, seperti di asrama atau pondok pesantren. Hal ini sudah melekat dengan mitos yang ada dari dahulu, apabila seseorang terkena penyakit kulit terutama scabies, ilmu agama yang diajarkan akan meningkat. Sehingga hal tersebut sudah menjadi hal yang dianggap biasa oleh para siswa, maka mereka tidak merasa takut dengan keadaan tersebut.

Pondok pesantren adalah sekolah islam yang berasrama dan pendidikan umum presentase ajarnya lebih tinggi ilmu agama dari pada ilmu umum (Ismihayati, 2013). Para pelajar disebut sebagai santri dan mereka tinggal diasrama yang sudah disediakan oleh pondok pesantren tersebut.  

Pesantren memang beresiko tertular penyakit kulit,khususnya skabies dimana santri tinggal bersama dengan teman-teman dalam satu kamar. Ditambah lagi perilaku yang tidak sehat seperti menggantung pakaian dikamar, sering bertukar benda pribadi ( pakaian atau alat sholat, handuk), tidur yang saling berhimpitan, dan sebagainya yang menyebabkan penyakit skabies (Ismihayati, 2013)

Peneliti melakukan observasi langsung terhadap pondok pesantren yang berada di Ciamis. Dari hasil observasi pondok pesantren tersebut, peneliti memilih penelitian di pondok pesantren Darussalam Kabupaten Ciamis, karena Pesantren Darussalam merupakan salah satu pesantren terbesar di Kabupaten Ciamis. Dari hasil studi pendahuluan laporan klinik pondok pesantren Darussalam pada tahun 2018 sebanyak 157 santri terkena  scabies.

Dari hasil wawancara, observasi dan penyebaran kuesioner kepada santri  di pondok pesantren Darussalam Kabupaten Ciamis didapatkan data bahwa dari populasi 157 orang yang diambil sampel sebanyak 16 responden, Diantaranya mengalami scabies. Responden yang terkena scabies mayoritas responden juga masih memiliki personal hygiene yang masih kurang yaitu dari 16 santri di dapat hasil 62,5% santri  dengan personal hygiene kurang seperti tidak mengganti pakaian 2x sehari, menggantung pakaian di kamar, saling bertukar pakaian sesama teman, tidak mandi setelah melakukan kegiatan (olahraga), tidak menjemur handuk di bawah terik sinar matahari setelah mandi, menggunakan sabun mandi secara bersama, tidak mencuci tangan menggunakan sabun, tidak menjemur kasur dalam seminggu sekali, dan tidak mengganti sprei dalam seminggu sekali.

Berdasarkan uraian diatas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitan dengan judul “ Hubungan Personal Hygiene dengan Kejadian Scabies di Pondok Pesantren Darussalam Kabupaten Ciamis Tahun 2019”.


B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “ adakah hubungan personal hygiene dengan kejadian scabies di pondok pesantren Darussalam Kabupaten Ciamis Tahun 2019?”

C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan personal hygiene dengan kejadian scabies di pondok pesantren Darussalam Kabupaten Ciamis Tahun 2019.
2. Tujuan Khusus
  1. Mendeskripsikan kejadian scabies di pondok pesantren Darussalam Kabupaten Ciamis Tahun 2019.
  2. Mendeskripsikan personal hygiene di pondok pesantren Darussalam Kabupaten Ciamis Tahun 2019.
  3. Menganalisis hubungan personal hygiene dengan kejadian scabies di pondok pesantren Darussalam Kabupaten Ciamis Tahun 2019.


D. Ruang Lingkup Penelitian
1. Lingkup Masalah
Masalah dalam penelitian ini dibatasi hanya pada hubungan personal hygiene dengan kejadian scabies di pondok pesantren Darussalam Kabupaten Ciamis Tahun 2019.

2. Lingkup Metode
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian secara survei analitik dengan menggunakan desain case control.
3. Lingkup Keilmuan
Bidang ilmu yang diteliti merupakan lingkup kesehatan masyarakat dengan peminatan Epidemiologi.
4. Lingkup Tempat
Penelitian dilaksanakan Pondok Pesantren Darussalam Kabupaten Ciamis.
5. Lingkup Sasaran
Pada kasus yakni santri mondok umur 13-18 tahun.
6. Lingkup Waktu
Waktu yang dilaksanakan dalam penelitian ini Tahun 2019.

E. Manfaat Penelitian
1. Bagi Peneliti
Sarana untuk mengaplikasikan ilmu yang telah didapat selama di bangku kuliah di bidang Kesehatan Masyarakat dalam bentuk penelitian ilmiah mengenai hubungan personal hygiene dengan kejadian scabies di pondok pesantren Darussalam Kabupaten Ciamis Tahun 2019.
2. Bagi Pesantren
Sarana pemberian informasi bagi Pondok Pesantren Darussalam tentang hubungan personal hygiene dengan kejadian scabies di pondok pesantren Darussalam  sehingga dapat dijadikan dasar dalam pengambilan kebijakan dan penanggulangan kasus scabies di Pondok Pesantren Darussalam.
3. Bagi Peneliti
Hasil penelitian ini diharapkan bisa menjadi media belajar komprehensif dalam mengaplikasilan ilmu yang telah diperoleh selama mengikuti perkuliahan di Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Siliwangi.

...

Silakan Download File Word hinggan BAB VI via SCRIBD di bawah:





Atau Download File Word via GOOGLE DRIVE