Senin, 22 Juni 2020

URBAN FARMING: Bercocok Tanam di Halaman Rumah

Tinggal di perkotaan dengan iklim yang panas, tanah yang gersang, udara yang penuh polusi, membuat kita mudah penat dan stress. Bangunan-bangunan yang saling berdekatan bahkan saling menempel satu sama lain, membuat ruang hijau menjadi sulit ditemukan. Oleh karena itu, masyarakat perkotaan harus pintar-pintar memanfaatkan lahan yang ada di sekitarnya, walau itu sempit sekalipun. 

Tanaman dan suasana hijau merupakan antidepresan yang ampuh, berada di sekitar tanaman atau bahkan hanya memandangi tanaman saja rasanya sudah sangat menenangkan, terlebih jika bisa 'bercengkrama' dengan tanaman, menanamnya, menyiramnya atau bahkan dapat memetik hasilnya, merupakan obat yang sangat ampuh menghilangkan kepenatan. 

Oleh karena itu, hingga kini konsep Urban Farming masih menjadi hal yang disenangi di kalangan masyarakat perkotaan. Dengan memanfaatkan lahan sempit di belakang atau di halaman rumah, sudah bisa mengunjungi 'tempat wisata' gratis di rumah sendiri. 

Seperti yang saya lakukan, ketika awal menempati rumah ini, halaman begitu gersang, panas dan penat. Satu-satunya cara untuk mengubah suasana halaman rumah yang sangat tidak menyenangkan tersebut adalah membuat sebuah taman mungil di halaman. Namun setelah dipertimbangkan kembali, rasanya taman saja tidak cukup, setidaknya halaman rumah harus bisa menghasilkan sesuatu yang bisa dikonsumsi. Ya! Urban Farming solusinya. 


Saya mulai membereskan halaman, cukup penuh perjuangan karena tanah di halaman saya sangat tidak subur, maklum unsur tanahnya terdiri dari pasir, semen dan banyak campuran bahan kimia bekas bangunan, sehingga unsur haranya tidak memadai untuk tanaman. Saya berpikir lagi bagaimana caranya supaya halaman tetap bisa ditanami. 

Lalu saya memutuskan untuk menggunakan konsep menanam di polybag dan pot. Tanah untuk media tanam saya bawa dari tempat lain yang lebih subur, saya campurkan sekam dan pupuk kandang dengan perbandingan 1:1:1, dan saya pun mulai menanam. 

Dalam bercocok tanam, saya ingin memenuhi konsep 70% tanaman Pangan dan Toga (Tanaman Obat Keluarga), dan 30% tanaman hias atau bunga. Untuk tanaman pangan saya mencoba menanam beberapa jenis sayuran, seperti kangkung dan sawi. 


Untuk kangkung, selama saya bercocok tanam di halaman rumah sudah panen sebanyak 3 kali dalam satu kali tanam benih. Dan untuk rencana kedepan saya akan mencoba beberapa jenis sayuran lagi. 


Untuk tanaman buah saya mencoba menanam Jeruk dan Cabai, juga buah Tin. Namun saya mengalami kendala dalam menanam tomat, karena selalu busuk dan terkena hama. 


Untuk tanaman Toga (Tanaman Obat Keluarga) saya mencoba menanam Sirih, Sereh, Bonahong, Jahe, Bidara dan bebrapa yang lain. Bersyukur tanaman obat tidak menemui masalah berarti dalam prose pertumbuhannya. 


Dan saya pikir tanaman obat adalah tanaman yang memang harus ada dalam daftar tanaman yang ditanam di halaman, selain secara estetika bentunya enak dilihat, manfaat lainnya adalah dapat dimanfaatkan sebagai bahan apotik hidup yang ada di halaman rumah kitas endiri. 



Dan rupanya tak semua tanaman masuk daftar tanaman yang direncanakan untuk ditanam, namun ada juga tanaman yang memang saya semai karena iseng, seperti tanaman Kurma ini misalnya, bibitnya hanya berasal dari kurma takjil pada bulan puasa bebrapa waktu lalu. Betapa Tuhan memberi karunia yang begitu besar kepada negeri kita ini berupa tanah yang sangat subur. Kita harus bersyukur dan mau memanfaatkannya dengan bijak. 


Bukan hanya tanaman, baru-baru ini saya juga mencoba untuk beternak ikan Lele dengan konsep Budikdamber (Budi Daya Ikan Dalam Ember), saya aplikasikan dengan menanam Kangkung di tepian kolamnya dengan konsep hidroganik, rupanya sangat menyenagkan dan sangat cocok dilakukan di tempat yang memang sempit seperti halaman saya ini. Hasilnya belum terlihat, karena saya belum pernah panen. 


Pokoknya, Urban Farming itu sangat menyenangkan, terlebih jika kita mencoba terus berinovasi, selain dapat meredakan stress, kita juga dapat menikmati hasilnya secara langsung. Urban Farming ini juga dapat mendukung program ketahanan pangan secara mandiri. Keren, kan? Tunggu apa lagi? Yuk bikin! 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar