Jumat, 03 Juli 2020

Hydroganics Floating Farm: Menanam Kangkung dengan Media Terapung di Atas Air

Memiliki keinginan memanfaatkan barang bekas dan sampah di sekitar membuat saya terus berpikir untuk mencari kreasi baru, di sisi lain minat saya dalam bercocok tanam membawa saya pada sebuah ide yang sederhana namun dapat menggabungkan keinginan dan minat saya tersebut. Berawal dari pemanfaatan plastik bekas minuman gelas yang saya manfaatkan untuk media tanam kangkung pada Budikdamber beberapa waktu lalu, saya mulai berpikir untuk membuat kreasi selanjutnya dengan konsep Hydroganics Floating Farm, yaitu menanam Kangkung pada wadah gelas plastik bekas yang ditanam secara terapung di atas kolam ikan lele di depan rumah. 

Terinspirasi dari Floating Dairy Farm-nya Peter dan Minke van Wingerden di Rotterdam, Belanda, saya ingin membuat pertanian terapung namun dengan konten tanaman atau sayuran. Namun, dalam hal ini saya masih dalam tahap percobaan pada skala rumah tangga, menggunakan cara-cara sendiri dalam proses pembuatan media tanam hingga proses penyemaian, lalu saya akan melakukan evaluasi untuk mendapatkan cara terbaik untuk mendapatkan hasil yang maksimal, tentunya untuk saya terapkan pada skala yang lebih besar kelak. 

Sesuai dengan konsep awal pembuatan media tanam yaitu dngan memanfaatkan barang bekas atau sampah di sekitar, bahan utama yang saya gunakana adalah Gelas Plastik bekas minuman dan Styrofoam bekas alat elektronik. 


Styrofoam berfungsi sebagai pelampung dan Gelas Plastik berfungsi sebagai wadah atau tempat untuk menyimpan media tanam bagi Kangkung. Ketebalan dari Styrofoam yaitu 6 Centimeter, saya nilai ketebalan ini sangat pas untuk menampung gelas plastik yang panjangnya rata-rata sekitar 9 hingga 9,5 Centimeter. Untuk menyimpan gelas plastik, lubangi styrofoam dengan diameter 2 inci dengan jarak sekitar 3 centimeter dari lubang ke lubang. Untuk melubangi styrofoam bisa dengan alat apapun yang dimiliki, saya sendiri menggunakan pipa besi 2 inchi. 



Untuk media tanam, saya menggunakan arang kayu. Selain menggunakan arang kayu, untuk beberapa gelas menggunakan sabut kelapa dan sekam, nantinya akan saya evaluasi media manakah diantara 3 media tanam tersebut yang mendapatkan hasil terbaik. 


Lubangi bagian bawah gelas plastik untuk sirkulasi air bagi akar tanaman, bagian bawah gelas plastik yang terendam air cukup sedalam 1 cendimeter saja, agar akar tanaman tidak terendam sepenuhnya dan sebagian akar akan keluar melewati lubang di dasar gelas plastik menuju air kolam lele untuk menyerap semua nutrisi organik dari air kolam. Tak ada nutrisi tambahan yang digunakan. Berikut adalah contoh Kangkung yang sudah berusia 11 hari. 


Mengenai proses semai sendiri saya menggunakan cara semai biji benih kangkung secara langsung pada media tanam di dalam gelas plastik. Banyak biji benih yang saya masukkan adalah 5 sampai 10 butir, namun ini bersifat opsional, namun saya sarankan jangan lebih dari 10 butir, agar tanaman memiliki cukup ruang untuk berkembang. Dalam proses semai langsung ini sendiri saya menggunakan 2 cara, yaitu: 
  1. Meletakkan biji benih dalam kondisi total terendam air
  2. Meletakkan biji benih di atas arang tanpa terendam secara total, lalu ditutup tanpa terkena sinar matahari pada 24 jam pertama. 
Dari kedua cara tersebut, hasil yang paling baik adalah dengan cara kedua, cara yang pertama menyebabkan biji beih menjadi busuk dan banyak yang tidak tumbuh. 

Dibawah ini adalah contoh tanaman Kangkung yang sudah berusia 28 hari. Bila dibandingkan antara ketiga jenis media tanam tadi, hasilnya tidak jauh berbeda. Hasilnya cukup memuaskan. 


Hingga kini, konsep yang saya lakukan ini masih dalam tahap pengembangan dan evaluasi, namun sejauh ini memberi hasil yang cukup baik. Tetap semangat bertani dan berinovasi.