Kamis, 30 Juli 2020

Relative Energy Deficiency Cyndrome, Pengalaman Terkena dan Bahayanya

Olahraga lari dapat membuat badan menjadi sehat. Namun jika kita mendalaminya, maka kita akan mengerti bahwa lari tak sesederhana itu. Banyak sekali manfaat yang sudah saya dapatkan dari rutinitas berlari, namun selain itu, kini saya juga menjadi lumayan akrab dengan jarum infus. 

Harus saya akui bahwa salah satu kelemahan saya adalah tidak sabaran dalam berlatih. Seringkali saya melanggar aturan dan batasan program latihan, padahal yang menyusun semua itu adalah saya sendiri, hehe. Dan karena sifat nakal saya itu, dalam lima bulan terakhir ini saya sudah dua kali masuk ruang UGD. 

Semua berawal ketika saya dan beberapa teman merencanakan untuk melakukan Trail Running menuju puncak gunung Ciremai pada tanggal 18 Februari 2017. Sejak jauh-jauh hari kami melakukan persiapan mental dan fisik untuk menghadapi trek pendakian gunung Ciremai dengan berlari. Maklum, berlari menanjak di gunung yang memiliki ketinggian 3078 Mdpl pada musim hujan tidak dapat dianggap remeh. 

Motivasi yang mungkin terlalu besar dalam diri saya untuk dapat mencapai puncak Ciremai dengan sempurna dengan berlari menyebabkan saya lupa diri dalam berlatih. Dengan tujuan mendapatkan kondisi tubuh yang lebih baik, menambah durasi latihan pun saya lakukan. Lap Land, Tempo Run, Sprint Endurance, Up Hill dan Long Run pun saya masukan pada program latihan. Tanpa saya sadari atau mungkin karena kelalaian dan kebodohan, akhirnya saya melakukan kesalahan besar dalam latihan, yaitu asupan gizi dan pola istirahat tidak seimbang. 

Tak dapat dipungkiri, akibat dari ketidakseimbangan antara porsi latihan dengan asupan gizi dan pola istirahat, saya pun mengalami sindrom RED (Relative Energy Deficiency), sindrom yang cenderung dialami oleh atlet dan olahragawan yang melakukan kesalahan serupa seperti saya. Akibat dari sindrom RED ini dapat menjadi sangat berbahaya karena dapat mengakibatkan gangguan pada sistem metabolisme tubuh, daya tahan tubuh berkurang, gangguan sintesis protein, gangguan fungsi pencernaan, berkurangnya fungsi kognitif, hilangnya massa otot, malnutrisi, gangguan mestruasi (pada wanita), bahkan untuk gangguan yang lebih parah dapat mengakibatkan gangguan jantung, rambut menjadi rontok dan kesempatan besar mengalami osteoporosis. Serem, kan? Beberapa gangguan yang saya sebutkan di atas pun saya alami, sehingga saya harus masuk UGD dan dirawat di Rumah Sakit selama beberapa hari. 

Hingga hari ini, saya masih berada dalam masa recovery, karena dokter menyarankan untuk tidak melakukan aktivitas olahraga berat selama 2 bulan. Namun, lagi-lagi saya tidak bisa menahan diri, kemarin saya sudah kembali lagi ke trek, dan menikmati saat-saat dimana napas saya mulai tersengal, seluruh otot kaki saya terasa sakit dan keringat saya mulai deras keluar, padahal masa recovery masih sisa satu bulan. 

Bagi teman-teman yang juga sangat menggemari olahraga, apapun itu, berlatihlah dengan bijak. Berlatih dengan keras boleh saja, namun juga harus cerdas. Porsi latihan harus seimbang dengan asupan gizi dan istirahat, semakin banyak porsi latihan, semakin tinggi gizi yang diperlukan tubuh. Mengkonsumsi makanan tinggi protein namun rendah lemak dan mengkonsumsi karbohidrat kompleks dapat dijadikan langkah pencegahan terjadinya sindrom RED pada tubuh.