Rabu, 12 Agustus 2020

Kerajaan-Kerajaan Hindu Budha di Indonesia

1. KERAJAAN KUTAI


Kutai adalah kerajaan tertua dan kerajaan Hindu pertama di Indonesia, yang diperkirakan muncul pada abad 5 M atau± 400 M. Terletak di Tepi Sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Di Kutai ditemukan prasasti berbentuk yupa/tiang batu berjumlah 7 buah bertuliskan huruf Pallawa dan bahasa Sansekerta diperkirakan berasal dari tahun 400 M. Yupa adalah tugu batu yang digunakan dalam upacara kurban.

a. Kehidupan Politik 

Dalam prasasti Yupa diterangkan mengenai silsilah raja-raja Kutai. Raja Kutai pertama adalah Kudungga (diperkirakan nama asli orang Indonesia). Kudungga mempunyai putra yang bernama Aswawarman (diperkirakan nama berasal dari India) sehingga Aswawarman dianggap sebagai "wangsakarta" atau pembentuk keluarga/dinasti. Selain itu dia juga dijuluki "Ansuman"(dewa matahari). Aswawarman mempunyai putra bernama Mulawarman. Mulawarman adalah raja yang terbesar/terkenal di Kutai.

b. Kehidupan Sosial dan Ekonomi

Dalam kehidupan sosial terjalin hubungan yang harmonis antara Raja Mulawarman dengan kaum Brahmana. Seperti yang dijelaskan dalam prasasti Yupa, bahwa raja Mulawarman memberi sedekah 20.000 ekor sapi kepada kaum Brahmana di tanah suci yang bernama Waprakeswara.

Waprakeswara adalah tempat suci untuk memuja dewa Siwa. Di pulau Jawa disebut Baprakewara.

Dalam kehidupan ekonomi, tidak diketahui secara pasti, kecuali disebutkan dalam salah satu prasasti bahwa Raja Mulawarman telah mengadakan upacara korban emas dan menghadiahkan 20.000 ekor sapi untuk golongan Brahmana.Tidak diketahui secara pasti asal emas dan sapi tersebut diperoleh, apabila emas dan sapi tersebut di datangkan dari tempat lain, bisa disimpulkan bahwa kerajaan Kutai telah melakukan kegiatan perdagangan.

c. Kehidupan Budaya

Dalam kehidupan budaya dapat dikatakan kerajaan Kutai sudah maju. Dibuktikan melalui upacara penghinduan/upacara Vratyastoma (pemberkatan memeluk agama Hindu) dilaksanakan sejak pemerintahan Aswawarma.

Menurut para ahli yang memimpin upacara tersebut dipastikan adalah para pendeta (Brahmana) dari India. Tetapi pada masa Mulawarman kemungkinan sekali upacara penghinduan tersebut dipimpin oleh pendeta/kaum Brahmana dari orang Indonesia asli. Dengan adanya kaum Brahmana asli orang Indonesia membuktikan bahwa kemampuan intelektualnya tinggi, terutama dalam hal penguasaan terhadap bahasa Sansekerta pada dasarnya bukanlah bahasa rakyat India sehari-hari, melainkan lebih merupakan bahasa resmi kaum Brahmana untuk masalah keagamaan.


2. KERAJAAN TARUMANEGARA


Kerajaan Hindu tertua kedua diIndonesia ini terletak di Bogor dekat sungai Citarum, Jawa Barat. Kerajaan ini di perkirakan berdiri tahun 450 M. Raja yang paling terkenal adalah Purnawarman. Dia adalah raja yang sangat baik terhadap rakyat, hal ini dibuktikan dengan pembuatan irigasi atau sungai untuk mengairi sawah dan mencegah banjir, sungai ini diberi nama sungai Gomati. Prasasti-prasasti peninggalan kerajaan Tarumanegara antara lain Prasasti Tugu, Munjul, Kebon Kopi, Pasir Awi, Jambu, Ciaruteun, dan Muara Cianten.

a. Kehidupan politik

            Kerajaan Tarumanegara mulai berkembang pada abad ke-5 M. Raja yang sangat terkenal adalah Purnawarman. Dia di kenal sebagai raja yang gagah berani dan tegas. Dia juga dekat dengan para brahmana, pangeran, dan rakyat. Dia raja yang jujur, adil, dan arif dalam memerintah. Daerahnya cukup luas sampai kedaerah Banten. Kerajaan Tarumanegara telah menjalin hubungan dengan kerajaan lain, misalnya dengan Cina.

b. Kehidupan Sosial dan Ekonomi

Dalam kehidupan agama, sebagian besar masyarakat Tarumanegara memeluk agama Hindu. Sedikit yang beragama Budha dan masih ada mempertahankan agama nenek moyang (animisme). Berdasarkan berita dari Fa-Hein, di To-lo-mo (Tarumanegara) terdapat tiga agama, yakni agama Hindu, agama Budha, dan kepercayaan Animisme. Pada prasasti Ciaruteun ada tapak kaki raja yang diibaratkan tapak kaki Dewa Wisnu. Sumber Cina lainnya menyatakan bahwa, pada masa Dinasti T'ang terjadi hubungan perdagangan dengan jawa. Barang-barang yang diperdagangkan adalah kulit penyu, emas, perak, cula badak, dan gading gajah. Dituliskan juga bahwa pemeluk daerah itu pandai membuat minuman keras yang terbuat dari bunga kelapa. Rakyat Tarumanagara hidup aman dan tentram. Pertanian merupakan mata pencaharian pokok. Disamping itu, perdagangan juga berkembang. Kerajaan Tarumanegara mengadakan hubungan dagang dengan Cina dan India. Untuk memajukan bidang pertanian, raja memerintahkan pembangunan irigasi dengan cara menggali sebuah saluran sepanjang 6112 tumbak (11 km). Saluran itu disebut dengan Sungai Gomati. Saluran itu selain berfungsi sebagai irigasi juga untuk mencegah bahaya banjir.

                                          

3. KERAJAAN SRIWIJAYA


Kerajaan sriwijaya adalah kerajaan maritim dan bercorak budha terbesar diIndonesia. Berdiri pada akhir abad Ke-17 M. Letak pusat Kerajaan Sriwijaya yang banyak didukung oleh para ahli, terletak di Palembang, dekat pantai dann tepi Sungai Musi,. Ketika pusat Kerajaan Sriwijaya di Palembang mulai menunjukan kemunduran, Sriwijaya berpindah ke Jambi.

Sumber keterangan Kerajaan Sriwijaya adalah berita perjalanan I-Tsing (seorang pendeta Budha dari Cina),dan ditemukan 6 buah prasasti yang menggunakan bahasa Melayu Kuno dan huruf Pallawa, serta telah menggunakan angka tahun Saka,antara lain Prasasti kedudukan bukit, Kota Kapur, Telaga Batu, Talang tuo dan, Karang Berahi. selain berasal dari dalam juga berasal dari luar seperti dari Cina, India, Arab, Persia. Demikianlah bukti-bukti sumber dari luar negeri yang menjelaskan keberadaan Sriwijaya, dan berbagai aspek kehidupan.

a. Kehidupan Politik 

Raja pertama Sriwijaya adalah Dapunta Hyang SriJayanaga. Sriwijaya mampu mengembangkan kerajaannya melalui keberhasilan politik ekspansi (perluasan) wilayah ke daerah-daerah yang sangat penting untuk perdagangan. Hal ini sesuai dengan prasasti yang ditemukan di Lampung, Bangka, dan Ligor. Bahkan melalui benteng I-Tshing bahwa Kedah di pulau Penang juga dikuasai Sriwijaya. Dengan demikian Sriwijaya bukan lagi sebagai negara senusa atau satu pulau, tetapi sudah merupakan negara antar nusa karena penguasaannya atas beberapa pulau.

b. Kehidupan Sosial dan Ekonomi

Kerajaan Sriwijaya memiliki letak strategis di jalur pelayaran dan perdagangan Internasional Asia Tenggara, maka Sriwijaya berkembang menjadi pusat perdagangan dan menjadi pelabuhan Transito. Hal ini juga didukung oleh pemerintahan raja yang cakap dan bijaksana seperti BalaPutraDewa. Pada masanya Sriwijaya memiliki armada laut yang kuat yang mampu menjamin keamanan di jalur-jalur pelayaran yang menuju Sriwijaya, sehingga banyak pedagang dari luar yang singgah dan berdagang di wilayah kekuasaan Sriwijaya. Dengan adanya pedagang-pedagang dari luar yang singgah maka penghasilan Sriwijaya meningkat dengan pesat. Peningkatan diperoleh dari pembayaran upeti, pajak maupun keuntungan dari hasil perdagangan dengan demikian Sriwijaya berkembang menjadi kerajaan yang besar dan makmur. Faktor lain yang menjadikan Sriwijaya menjadi kerajaan besar adalah kehidupan sosial masyarakatnya meningkat dengan pesat terutama dalam bidang pendidikan sehingga Sriwijaya terbukti menjadi pusat pendidikan dan penyebaran agama Budha di Asia Tenggara.

Hal ini sesuai dengan berita I-Tshing pada abad ke 8 bahwa di Sriwijaya terdapat 1000 orang pendeta yang belajar agama Budha di bawah bimbingan pendeta Budha terkenal yaitu Sakyakirti. Pemuda-pemuda Sriwijaya juga mempelajari agama Budha dan ilmu lainnya di India, hal ini tertera dalam prasasti Nalanda Bahwa raja Sriwijaya yaitu BalaPutraDewa mempunyai hubungan erat dengan raja DewaPalaDewa (India). dan Kemajuan dalam bidang budaya sampai sekarang dapat diketahui melalui peninggalan-peninggalan suci seperti stupa, candi atau patung/arca Budha seperti ditemukan di Jambi, Muaratakus, dan Gunung Tua (Padang Lawas) serta di Bukit Siguntang (Palembang).Dengan demikian kehidupan ekonomi dan sosial masyarakat Sriwijaya sangat baik dan makmur.

Keruntuhan Sriwijaya terjadi pada tahun 1477 ketika Majapahit mengirimkan tentaranya untuk menaklukan Sumatera termasuk Sriwijaya.


4. KERAJAAN KOTA KAPUR


Dari hasil penelitian arkeologi yang dilakukan di Kota Kapur, Pulau Bangka, pada tahun 1994, diperoleh satu petunjuk tentang kemungkinan adanya sebuah pusat kekuasaan di daerah itu sejak masa sebelu munculnya Kerajaan Sriwijaya. Pusat kekuasaan ini meninggalkan temuan-temuan arkeologi berupa sisa-sisa sebuah bangunan Candi Hindu (waisnawa) terbuat dari batu bersama dengan arca-arca batu, diantaranya dua buah arca Wisnu dengan gaya seperti arca-arca Wisnu yang ditemukan di Lembah Makhing, Semenanjung Malaka, dan Cibuaya, Jawa Barat, yang berasal dari masa sekitar abad ke-5 dan ke-7 masehi.

Sebelumnya disitus Kota Kapur selain telah ditemukan sebauh inskripsi batu dari Kerajaan Sriwijaya yang berangka tahun 608 Saka (686 Masehi), telah ditemukan pula peninggalan-peninggalan yang lain diantaranya sebuah arca Wisnu dan sebuah arca Durga Mahisasuramardhini. Dari peninggalan-peninggalan arkiologi tersebut nampaknya kekuasaan di Pulau Bangka pada waktu itu bercorak Hindu-Waisnawa, seperti halnya di Kerajaan Tarumanegara di Jawa Barat.

Benteng Pertahanan

Temuan lain yang penting dari situs Kota Kapur ini adalah meninggalkan berupa benteng pertahanan yang kokoh berbentuk dua buah tanggul sejajar terbuat dari tumbuhan tanah, masing-masing panjangnya sekitar 350 meter dan 1200 meter dengan ketinggian sekitar 2-3 meter. Peninggalan dari tanggul benteng ini menunjukan masa antara tahun 530 M sampai 870 M.

Benteng pertahanan tersebut yang telah dibangun sekitar pertengahan abad ke-6 tersebut agaknya telah berperan pula dalam menghadapi ekspedisi Sriwijaya ke Pulau Bangka menjelang akhir abad ke-7. Penguasa Pulau Bangka oleh Sriwijaya ini ditandai dengan dipancangkannya inskripsi Sriwijaya di Kota Kapur yang berangka tahun 608 Saka (686 Masehi), yang isinya mengidentifikasikan dikuasainya wilayah ini oleh Sriwijaya.

Penguasa Pulau Bangsa oleh Sriwijaya ini agaknya berkaitan dengan peranan Selat Bangsa sebagai pintu gerbang selatan dari jalur pelayaran niaga di Asia tenggara pada waktu itu. Sejak dikuasainya Pulau Bangka oleh Sriwijaya pada tahun 686 maka berakhirlah kekuasaan awal yang ada di Pulau Bangka.


5. KERAJAAN MEDANG KEMULAN 


Kerajaan Medang Kemulan berdiri di Jawa Tengah pada abad ke-8, kemudian berpindah ke Jawa Timur pada abad ke-10 terletak di muara Sungai Brantas dengan ibu kotanya bernama Watan Mas. Kerajaan ini banyak meninggalkan bukti sejarah berupa prasasti-prasasti yang tersebar di Jawa Tengah dan Jawa Timur, serta membangun banyak candi baik yang bercorak Hindu maupun Budha.

a. Kehidupan Politik

Mpu Sindok merupakan raja pertama Kerajaan Medang Kamulan yang bergelar Sri Maharaja Rakai Hino Sri Isyana Wikrama Dharmatunggadewa. Dia memerintah selama dua puluh tahun dengan adil dan bijaksana. Untuk kemakmuran rakyatnya, ie membangun bendungan atau tanggul untuk pengairan. Dalam memerintah dia dibantu oleh permaisurinya yaitu Sri Wardhani Pu Kbin.

Kerajaan Medang Kamulan diserang Kerajaan Wurawari, yang mengakibatkan hancurnya Medang Kamulan. Airlangga berhasil melarikan diri ke hutan Setelah merasa kuat Airlangga kembali ke Kerajaan Medang Kamulan dan berhasil menjadi penguasa 1019 M dengan gelar Rakai Halu Sri Lakeswara Dharmawangsa Airlangga Teguh Ananta Wirakramatunggadewa.

Airlangga berhasil memindahkan pusat pemerintahan dari Medang Kamulan ke Kahuripan. Untuk memperbaiki kesejahteraan rakyatnya. Kerajaan Medang Kamulan mencapai puncak kejayaan dan kemakmuran pada masa pemerintahan Raja Airlangga. Pengalaman hidup dan keberhasilan Airlangga dikisahkan dalam Kitab Arjunawiwaha yang ditulis oleh Mpu Kanwa.

b. Kehidupan sosial dan Ekonomi

Agama resmi Kerajaan Medang pada masa pemerintahan Sanjaya adalah Hindu aliran Siwa. Ketika Sailendrawangsa berkuasa, agama resmi kerajaan berganti menjadi Buddha aliran Mahayana. Kemudian pada saat Rakai Pikatan dari Sanjayawangsa berkuasa, agama Hindu dan Buddha tetap hidup berdampingan dengan penuh toleransi.

Penduduk Medang sejak periode bumi Mataram sampai periode wwatan pada umumnya bekerja sebagai petani. Kerajaan Medang memang terkenal sebagai negara agraris, sedangkan saingannya, yaitu Kerajaan Sriwijaya merupakan negara maritim.

c. Peninggalan sejarah

Selain meninggalkan bukti sejarah berupa prasasti-prasasti yang tersebar di Jawa Tengah dan Jawa Timur, Kerajaan Medang juga membangun banyak candi, baik itu yang bercorak Hindu maupun Buddha. Temuan Wonoboyo berupa artifak emas yang ditemukan tahun 1990 di Wonoboyo, Klaten, Jawa Tengah; menunjukkan kekayaan dan kehalusan seni budaya kerajaan Medang.

Candi-candi peninggalan Kerajaan Medang antara lain, Candi Kalasan, Candi Plaosan, Candi Prambanan, Candi Sewu, Candi Mendut, Candi Pawon, dan tentu saja yang paling kolosal adalah Candi Borobudur.


6. KERAJAAN MATARAM KUNO


Kerajaan Mataram Kuno atau disebut dengan Bumi Mataram. Pada awalnya terletak di Jawa Tengah. Daerah Mataram dikelilingi oleh banyak pegunungan dan di tengahnya banyak mengalir sungai besar diantaranya sungai Progo, Bogowonto, Elo, dan Bengawan Solo. Keadaan tanahnya subur sehingga pertumbuhan penduduknya cukup pesat. Kerajaan Mataram dibagi menjadi dua yaitu JENGGALA (Singosari) di Kahuripan dan PANJALU (Kendiri) di Daha.

a. Kehidupan politik

Kerajaan ini diperintah oleh Raja Sanna dan Raja Sanjaya (keponakan Sanna). Kerajaan Mataram diperintah oleh raja-raja dari Dinasti Sanjaya (yang menganut agama Hindu) dan raja-raja dari Dinasti Syailendra (yang menganut Agama Budha). Pada masa kekuasaan Samaratungga dibangun Candi Borobudur. Kerajaan Mataram mencapai puncak kejayaan pada masa kepemimpinan Raja Balitung pada tahun 929 M,

Ketika kepemimpinan Dharmawangsa terjadi peristiwa Pralaya Medang yaitu penyerbuan Mataram oleh Wura Wari (bawahan Dharmawangsa yang dihasut oleh Sriwijaya). Pengganti Dharmawangsa sekaligus raja terakhir Mataram adalah Airlangga (menantu Dharmawangsa). Berakhirnya kerajaan mataram karena Airlangga membagi kerajaan menjadi dua untuk menghindari perebutan kekuasaan antara putra Darmawangsa dan putra Airlangga, Mapanji Garasakan.

b. Kehidupan Sosial dan Ekonomi

Raja Sanjaya bersikap arif, adil dalam memerintah, dan memiliki pengetahuan luas. Para pujangga dan rakyat hormat kepada rajanya. Oleh karna itu, di bawah pemerintahan Raja Sanjaya, kerajaan menjadi aman dan tentram, rakyat hidup makmur. Mata pencaharian penting adalah pertanian dengan hasil utama padi. Sanjaya juga dikenal sebagai raja yang paham akan isi kitab-kitab suci. Bangunan suci dibangun oleh Sanjaya untuk memajukan lingga di atas Gunung Wukir, sebagai lambang telah ditaklukkannya raja-raja kecil disekitarnya yang dulu mengakui kemaharajaan Sanna.

c. Peninggalan Sejarah

Sumber-sumber Prasasti, prasasti Canggal, Prasasti Kalasan, Prasasti Mantyasih (prasasti Belitung), Prasasti Klurak.

Selain prasasti yang menjadi sumber sejarah adanya kerajaan Mataram juga banyak bangunan-bangunan candi di Jawa Tengah, yang menjadi bukti peninggalan kerajaan Mataram yaitu seperti candi-candi pegunungan Dieng, Candi Gedung Songo, yang terletak di Jawa Tengah Utara. Selanjutnya di Jawa Tengah bagian selatan ditemukan candi antara lain Candi Borobudur, Candi Mendut, Candi Plaosan, Candi Prambanan, Candi Sambi Sari, dan masih banyak candi-candi yang lain.


7. KERAJAAN SINGASARI (KERAJAAN JENGGALA/TUMAPEL)


Kerajaan Singosari (Kerajaan Jenggala) terletak di Malang, Jawa Timur. Kerajaan ini didirikan oleh Ken Arok setelah berhasil membunuh Bupati singosari Tunggul Ametung. Ken Arok menjadi raja pertama Singosari dan berhasil memperistri Ken Dedes (istri Tunggul Ametung). Ken Arok bergelar Sri Ranggah Rajasa Sang Amurwabumi. Pada tahun 1227. Ken Arok dibunuh oleh Anusapati (anak dari Tunggul Ametung). Pemerintahan Anusapati tidak berjalan lama karena dia dibunuh oleh Tohjaya (anak dari Ken Arok).

Tidak lama kemudian Ranggawuni (anak dari Anusapati) menuntut kekuasaan dari Tohjaya, tetapi Tohjaya menolak dan mengirimkan pasukan melawan Ranggawuni. Dalam pertempuran tersebut Tohjaya melarikan diri dan akhirnya meninggal di daerah Katang Lumbung. Ranggawuni naik tahta dengan gelar Sri Jaya Wisnu Wardana. Setelah dia meninggal digantikan putranya yaitu Kertanegara dengan gelar Sri Maharajadiraja Sri Kertanegara. Kertanegara merupakan raja yang paling terkenal di Singhasari, Ia bercita-cita Singhasari menjadi kerajaan besar.

a. Kehidupan politik     .

Kertanegara memandang Cina sebagai Saingan. Berkali-kali utusan Kaisar Cina memaksa Kertanegara agar mengakui kekuasaan Cina, tetapi ditolak oleh Kertanegara. Untuk menciptakan pemerintahan yang kuat dan teratur, Kertanegara menjalin hubungan dengan kerajaan-kerajaan lain di luar kepulauan Indonesia. Misalnya dengan Raja Jayasingawarman III(Kerajaan Cempaka). Membentuk badan-badan pelaksana, Orang-orang yang tidak setuju dengan cita-cita Kertanegara akan diganti.        Kertanegara memperluas wilayah Singasari hingga meliputi seluruh Nusantara, Beberapa diantaranya Bali, Kalimantan Barat Daya, Maluku, Sunda, Dan PahangRaja. Kertanegara mengirimkan Ekspedisi pamalayu. Ekspedisi Pamalayu diharapkan akan menggoyahkan Kerajaan Sriwijaya. Bertujuan untuk mengimbangi pengaruh Kubilai dari Cina.

b. Kehidupan Sosial dan Ekonomi

Pada masa pemerintahan Kertanegara, agama Hindu maupun Budha berkembang dengan baik dan Bahkan terjadi Sinkretisme menjadi bentuk Siwa-Buddha.

Keruntuhan kerajaan Singasari karena mendapat serangan Jayakatwang dari Kerajaan Kediri. Dengan terbunuhnya Kertanegara maka berakhirlah Kerajaan Singhasari.


8. KERAJAAN KEDIRI (PANJALU)


Airlangga membagi Kahuripan menjadi dua kerajaan untuk menghindari perselisihan dua puteranya, dan dia sendiri turun tahta menjadi pertapa. Putra yang bernama Mapanji Garasakan mendapatkan kerajaan timur bernama Janggala (Singasari) dan Putra yang bernama Sri Samarawijaya mendapatkan kerajaan barat bernama Panjalu (Kendiri)

Kerajaan Kediri terletak bagian selatan Kerajaan Kahuripan, pusat kerajaan pindah ke Daha (singkatan dari Dahanapura yang berarti Kota Api).

Pada masa pemerintahan Sri Jayabaya Kerajaan kendiri mengalami masa kejayaannya. berhasil menaklukkan Kerajaan singasari dan Wilayah kerajaan ini meliputi seluruh Jawa dan beberapa pulau di Nusantara, bahkan sampai mengalahkan pengaruh Kerajaan Sriwijaya di Sumatra.

a. Kehidupan Politik

Runtuhnya kerajaan Kerajaan Kediri pada tahun 1222 masa pemerintahan Kertajaya sedang berselisih melawan kaum brahmana yang kemudian meminta perlindungan Ken Arok Kerajaan Tumapel. Kebetulan Ken Arok juga bercita-cita memerdekakan Tumapel yang merupakan daerah bawahan Kadiri.   Pasukan Ken Arok berhasil menghancurkan pasukan Kertajaya dan berakhirlah masa Kerajaan Kadiri, yang kemudian menjadi bawahan Tumapel (Singhasari).

Setelah Ken Arok membunuh Kertajaya, Kadiri menjadi suatu wilayah dibawah kekuasaan Singhasari. Ken Arok mengangkat Jayasaba (putra Kertajaya) sebagai bupati Kediri. Tahun 1258 Jayasaba digantikan Sastrajaya (Putranya). Pada tahun 1271 Sastrajaya digantikan Jayakatwang(Putranya).

Jayakatwang memberontak terhadap Singhasari karena dendam masa lalu leluhurnya Kertajaya dikalahkan oleh Ken Arok. Setelah berhasil membunuh Kertanegara (raja singasari). Jayakatwang membangun kembali Kerajaan Kediri, namun hanya bertahan satu tahun dikarenakan serangan gabungan yang dilancarkan oleh pasukan Mongol dan pasukan Raden Wijaya (menantu Kertanegara).

b. Kehidupan Sosial dan Ekonomi

Kehidupan sosial masyarakat Kediri cukup baik karena kesejahteraan rakyat meningkat masyarakat hidup tenang, hal ini terlihat dari rumah-rumah rakyatnya yang baik, bersih, dan rapi, dan berlantai ubin yang berwarna kuning, dan hijau serta orang-orang Kediri telah memakai kain sampai di bawah lutut. Dengan kehidupan masyarakatnya yang aman dan damai maka seni dapat berkembang antara lain kesusastraan yang paling maju adalah seni sastra. Hal ini terlihat dari banyaknya hasil sastra yang dapat Anda ketahui sampai sekarang.


9. KERAJAAN MAJAPAHIT


Setelah Kerajaan Singasari dan Kerajaan kendiri jatuh maka berdirilah Kerajaan Majapahit yang berpusat di Jawa Timur antara abad ke-14 - ke-15 M. Terletak di Mojokerto sekitar delta sungai Brantas. Raja Majapahit yang pertama adalah Raden Wijaya (menantu Kertanegara) dengan gelar Kertarajasa Jayawardhana. Setelah Raden Wijaya meninggal, Majapahit diperintah oleh Jayanegara. Dalam masa pemerintahannya timbul beberapa pemberontakan antara lain, pemberontakan Nambi, Semi, Ranggalawe, Lembu Sora dan Kuti. Pemberontakan Kuti adalah yang dianggap paling berbahaya karena berhasil menduduki ibu Kota Majapahit dan Jayanegara terpaksa mengungsi ke daerah Badander. Akhirnya pemberontakan Kuti berhasil dipadamkan oleh Gajah Mada, dan berkat jasanya, dia di angkat menjadi Patih Kahuripan. Pengganti Jayanegara adalah Tribuwana Tungga Dewi. Ketika pemerintahannya timbul pemberontakan Sadeng, pemberontakan ini juga berhasil ditumpas oleh Gajah Mada sehingga dia di angkat menjadi Mahapatih Majapahit. Pada waktu pelantikan dia mengucapkan sumpah yang dikenal dengan Sumpah Palapa. Isi sumpahnya adalah tidak akan merasakan palapa (istirahat) sebelum menyatukan nusantara di bawah Majapahit

Setelah Tribuwana Tungga Dewi meninggal dia digantikan putranya yaitu Hayam Wuruk. Majapahit mencapai masa keemasan pada masa pemerintahan Hayam Wuruk, di dampingi mahapatih Gajah Mada. Keruntuhan Majapahit antara lain akibat tidak ada tokoh yang cakap dan berwibawa sesudah wafatnya Hayam Wuruk dan Gajah Mada, Terjadi Perang paregrek (perang saudara) antara Bhre Wirabumi dan Wikrama Wardhana, Banyak negeri bawahan Majapahit yang berusaha melepaskan diri, dan Berkembangnya agama Islam di pesisir Pantai Utara Jawa.


10. KERAJAAN HO-LING atau KALINGGA



Kerajaan Ho-Ling terletak diantara Purwodadi (Grobogan) hingga Bloran dan Lasem, Jawa Tengah. Sekitar abad ke-7 M  sampai ke-9 M. Menurut berita cina sebelah timur kalingga terdapat Po-Li (Bali sekarang), sebelah barat To-Po-Teng (Sumatera), sebelah utara Chen-La (Kamboja), dan sebelah selatan perbatasan dengan samudera.

a. Kehidupan Politik

Raja yang terkenal adalah Ratu Sima. Dia dikenal sebagai Ratu yang tegas, jujur, dan bijaksana.

b. Kehidupan Sosial dan Ekonomi

Agama utama yang dianut oleh penduduk Kalingga pada umumnya adalah Buddha. Agama Buddha berkembang pesat. Bahkan pendeta Cina yang bernama Hwi-ning datang di Kalingga dan tinggal selama tiga tahun. Selama di Kalingga, menerjemahkan kitab suci Agama Buddha Hinayana ke dalam bahasa Cina. Dalam usaha menerjemahkan kitab itu Hwi-ning dibantu oleh seorang pendeta bernama janabadra.

Kepemimpinan raja yang adil, menjadikan rakyat hidup teratur, aman, dan tentram. Mata pencarian penduduk pada umumnya adalah bertani, karena wilayah Kalingga subur untuk pertanian. Di samping itu, penduduk juga melakukan perdagangan.

Kerajaan Kalingga mengalami kemunduran kemungkinan akibat serangan Sriwijaya yang menguasai perdagangan. Serangan tersebut mengakibatkan pemerintah Kijen menyingkir ke Jawa bagian Timur atau mundur ke pedalaman Jawa bagian Tengah antara tahun 742-755 M.


11. KERAJAAN BULELENG



Menurut berita Cina di sebelah timur Kerajaan Kalingga ada daerah Po-li (Dwa-Pa-Tan/Bali sekarang) terdapat sebuah kerajaan Buleleng

a. Kehidupan Politik

Dalam sejarah Bali, Buleleng mulai terkenal setelah periode Kerajaan Majapahit. Pada waktu di jawa berkembang kerajaan-kerajaan Islam, di Bali juga berkembang sejumlah kerajaan. Misalnya Gelgel, Klungkung, dan Buleleng semakin terkenal, terutama setelah zaman penjajahan Belanda di Bali. Pada waktu itu pernah terjadi perang rakyat Buleleng melawan Belanda.

Pada zaman kuno, sebenarnya Buleleng sudah berkembang. Pada masa perkembangan kerajaan Dinasti Warmadewa, Buleleng diperkirakan menjadi salah satu daerah kekuasaan Dinasti Warmadewa.

b. Kehidupan Sosial dan Ekonomi

Adat istiadat di Dwa-Pa-Tan sama dengan kebiasaan orang-orang Kalingga. Misalnya, penduduk biasa menulisi daun lontar. Bila ada orang meninggal, mayatnya dihiasi daun emas dan ke dalam mulutnya dimasukkan sepotong emas, serta diberi wangi-wangian harum. Kemudian mayat itu dibakar. Hal ini menandakan Bali telah berkembang.

Sesuai dengan letaknya yang ada di tepi pantai, Buleleng berkembang menjadi pusat perdagangan laut. Hasil dari pertanian dari pedalaman diangkut lewat darat menuju Buleleng. Dari Buleleng barang dagangan yang berupa hasil pertanian seperti kapas, beras, asam, kemiri, dan bawang diangkut atau diperdagangkan ke pulau lain (daerah seberang). Perdagangan dengan daerah seberang mengalami perkembangan pesat pada masa Dinasti Warmadewa yang diperintah oleh AnakWungsu.