Pengalaman Budidaya Jahe dengan Seluk Beluknya


Jahe, atau dengan nama ilmiah Zingiber officinale adalah jenis tanaman rimpang yang masih terkait erat dengan Lengkuas, Kunyit, Kapulaga dan tanaman rimpang lainnya. Tanaman ini sangat berguna bagi kehidupan manusia, biasa dimanfaatkan sebagai bahan untuk obat-obatan, bumbu masakan, bahkan minuman. Bagian yang biasa dimanfaatkan dari tanaman ini adalah bagian rimpang atau umbinya. Cara pengolahan tanaman Jahe ini juga bermacam-macam, bisa dikonsumsi dalam keadaan segar, diolah dengan dikeringkan, dibuat tepung/serbuk, diambil minyaknya atau bahakan dibuat jus. 

Sedikit informasi tentang berbagai sebutan nama Jahe di Indonesia: Halia (Aceh), Beuing (Gayo), Bahing (Karo), Pege (Toba), Sipode (Mandailing), Lahia (Nias), Sipodeh (Minangkabau), Page (Lubu), dan Jahi (Lampung), Jahe (Sunda), Jae (Jawa), Jhai (Madura), dan Jae (Kangean). Layu (Mongondow), Moyuman (Poros), Melito (Gorontalo), Yuyo (Buol), Siwei (Baree), Laia (Makassar), Pace (Bugis), Jae (Bali), Reja (Bima), Alia (Sumba), Lea (Flores).

TAKSONOMI

Domain

Eukaryota

Kingdom

Plantae

Phylum

Spermatophyta

Subphylum

Angiospermae

Class

Monocotyledonae

Order

Zingiberales

Family

Zingiberaceae

Genus

Zingiber

Species

Zingiber officinale

Domain

Eukaryota

NILAI GIZI

UKURAN SAJI

100g

 

NILAI HARIAN (%)

Kalori

335

Total Lemak 4,2 g

5%

Lemak Jenuh 2,6 g

13%

Natrium 27 mg

1%

Total Karbohidrat 72g

26%

Serat Makanan 14g

50%

Gula 3.4g

 

Protein 9g

18%

 

 

Vitamin D 0,00mcg

0%

Kalsium 114.00mg

9%

Besi 19.80mg

110%

Kalium 1320mg

28%

‘NILAI HARIAN (%)’ adalah persentase seberapa banyak nutrisi dalam satu porsi makanan berkontribusi pada makanan sehari-hari. Standar Nutrisi konsumsi kalori dalam sehari adalah 2.000 kalori. Untuk data selengkapnya bisa dilihat di sini.

MENANAM JAHE

Berawal dari rutinitas keluarga kami meminum ramuan Jahe setiap hari, akhirnya saya mencoba untuk menanam beberapa rimpang jahe yang saya ambil dari dapur, kelak hasilnya akan saya konsumsi sendiri. Namun karena ada pihak yang bersedia meminjamkan lahan kosongnya yang cukup luas, lantas saya memutuskan untuk mengambil kesempatan ini dan memilih tanaman Jahe sebagai komoditas yang dibudidayakan.

VARIETAS JAHE DI INDONESIA

Ada tiga varietas Jahe yang umum ditemukan di Indonesia, yaitu Jahe Gajah, Jahe Emprit, dan Jahe Merah. Masing varietas dibedakan menurut bentuk rimpang, besar rimpang, warna rimpang dan kadar zat yang terkandung didalamnya. Berikut penjelasan tentang tiga varietas jahe tersebut: 

1. Jahe Gajah. 

Tanda yang paling mencolok dari Jahe Gajah ini adalah ukuran rimpang yang besar dan cenderung menggembung, jika ukurannya dibandingkan dengan Jahe varietas lainnya, ukuran Jahe Gajah adalah yang paling besar. Warna rimpang putih kekuningan, aroma dan rasa Jahe Gajah tidak terlalu menyengat jika dibandingkan dengan Jahe Varietas lainnya. Jahe Gajah bisa dipanen dan dikonsumsi ketika usia rimpang belum terlalu tua, dapat dipanen saat usia 8-12 bulan. 

2. Jahe Emprit 

Dari bentuk, Jahe Emprit ini terlihat hampir sama dengan Jahe Gajah, hanya saja rimpang lebih kecil daripada Jahe Merah. Aroma dan rasa Jahe Emprit lebih tajam dibandingkan Jahe Gajah, ini disebabkan kandungan minyak atsiri pada Jahe Emprit lebih besar daripada Jahe Gajah.

3. Jahe Merah 

Secara ukuran, Jahe Merah tidak berbeda jauh dengan Jahe Emprit, namun perbedaan yang paling mencolok adalah warna yang merah. Kandungan minyak atsiri pada Jahe Merah cukup tinggi, sehingga Jahe Merah adalah sangat cocok untuk dijadikan bahan jamu, obat-obatan herbal atau diekstraksi untuk diambil minyaknya. 

MEMILIH BIBIT JAHE

Berhubung tanaman Jahe diperbanyak secara vegetatif atau dengan menggunakan potongan-potongan rimpang yang ditumbuhkan tunasnya, jadi pemilihan bibit menjadi fase yang sangat penting. Berikut beberapa saran dalam memilih bibit Jahe yang baik: 

  1. Tentukan varietas Jahe apa yang akan ditanam;
  2. Rimpang yang akan dijadikan bibit harus berasal dari rumpun induk yang sehat, akan lebih baik lagi jika kita mengetahui pertumbuhan rumpun induk, namun jika tidak memungkinkan, carilah penjual bibit Jahe yang terpercaya;
  3. Rimpang bibit sudah berusia maksimal, yaitu diantara 10 hingga 12 bulan; 
  4. Ciri-ciri fisik rimpang terlihat mulus, kekar, segar dan mengkilat, tidak luka, tidak ada bagian yang busuk, tidak terdapat jamur dan terdapat minimal 3 hingga 5 mata tunas;

LANGKAH PENYEMAIAN BIIBIT JAHE

  1. Rimpang yang sudah melalui proses seleksi dipotong-potong dengan cara dipotek atau dipotong menggunakan pisau, dengan syarat pisau atau alat yang digunakan untuk memotong dalam keadaan bersih dan terbebas dari karat;
  2. Masing-masing potongan rimpang harus terdiri dari minimal 3 hingga 5 bakal tunas;
  3. Untuk mencegah terkontaminasi jamur atau penyakit, rendam rimpang dengan menggunakan bakterisida atau fungisida dan zat pengatur tumbuh selama 1 jam. Sebagai contoh, saya menggunakan Antracol untuk fungisida dan Atonik untuk zat pengatur tumbuh;
  4. Setelah direndam dengan fungisida dan zat pengatur tumbuh, jemur rimpang selama 1 jam;
  5. Sediakan media tanam untuk menyemai yang terdiri dari wadah dan sekam padi. Untuk wadah bisa dari kotak kayu atau apapun yang sesuai, lalu tebarkan sekam padi pada wadah tersebut secara merata dengan ketebalan mulai dari 6 hingga 10 Cm. Bisa saja sekam dicampur dengan tanah, namun saya sendiri lebih suka menggunakan sekam saja;
  6. letakkan rimpang pada media semai, lalu kubur tipis atau bisa juga ditutupi dengan jerami;
  7. Simpan semaian di tempat yang tidak terkena sinar matahari secara langsung;
  8. Siram semaian setiap sore hingga tumbuh tunas atau daun. 

PERSIAPAN LAHAN 

Untuk hasil yang maksimal, sebaiknya proses penyiapan lahan dilakukan sebulan sebelum proses penanaman. Pertama, lahan digemburkan dengan cara digarpu dan dicangkul, setelah itu taburi lahan dengan Kapur Pertanian atau Kapur Dolomit untuk menetralisir kadar keasaman tanah dan menghilangkan zat-zat yang menyebabkan rimpang terserang jamur atau virus. Setelah ditaburi dengan Kapur Dolomit, biarkan lahan selama kurang lebih dua minggu atau sampai terkena hujan. 

Setelah dilakukan pengapuran, lakukanlah pemupukan dasar menggunakan pupuk kandang yang sudag melewati proses fermentasi. Mengapa pupuk kandang harus difermentasi terlebih dahulu? Karena pupuk kandang yang mentah atau belum melewati proses fermentasi beresiko menyebabkan rimpang terkena jamur atau virus. Aduk tanah dengan pupuk kandang secara merata, atau bisa juga pupuk kandang diaplikasikan pada lubang tanam saja. Biarkan tanah yang sudah dilakukan pemupukan dasar tadi selama 2 minggu. 

Setelah itu lakukan pembedengan pada lahan, atau proses pembedengan ini biasa dilakukan langsung setelah proses pemupukan dasar. Lebar bedengan sekitar 40 hingga 80 Centimeter, atau disesuaikan dengan kondisi lahan, kedalaman bedengan sekitar 10 hingga 15 Centimeter.

WAKTU TANAM

Untuk lahan yang sistem penyiramannya sudah cukup baik atau berada di dekat sumber air, mungkin tidak akan menemui masalah dalam memilih waktu tanam, namun untuk lahan yang belum memiliki sistem penyiraman yang baik atau jaur dari sumber air dan mengandalkan hujan untuk proses penyiraman, tentu harus memilih waktu tanam yang tepat. Seperti ladang Jahe saya yang berada di huma dan jauh dari sumber air, menurut pengalaman waktu tanam yang tepat adalah pada awal musim penghujan atau sekitar bulan September atau Oktober. Ini dilakukan agar tanaman Jahe mendapat suplay air yang cukup pada tiga bulan pertama masa tanam. Saya pernah melakukan penanaman Jahe pada bulan Februari dan hasilnya pertumbuhan Jahe terganggu atau tidak maksimal karena tidak mendapat suplay air yang cukup di akhir musim penghujan. 

PEMUPUKAN

Pemupukan susulan pada tanaman jahe dilakukan saat usia tanaman Jahe 6 hingga 8 minggu. Jenis pupuk yang digunakan adalah KCL dan TSP dengan dosis 125 kg per hektar. Cara pengaplikasian pupuk adalah dengan menaburkannya di sekitar tanaman, namun jangan sampai mengenai rimpang atau batang karena dikhawatirkan akan menimbulkan jamur atau busuk. Setelah itu kubur pupuk menggunakan tanah tipis. 

Jika menggunakan pupuk kandang, cara pengaplikasiannya juga ditaburkan di sekitar tanaman lalu kubur menggunakan tanah. Catatan pentingnya adalah gunakan pupuk kandang yang matang atau sudah melewati proses fermentasi.

HAMA DAN PENYAKIT

Berikut adalah beberapa jenis hama yang biasa menyerang tanaman Jahe: 

A. Lalat Rimpang Mimegralla Coeruleifrons Macquart. 


Serangga (Ordo: Diptera/Family: Micropezidae) ini sering menjadikan Jahew, Kunyit, Kencur, Temulawak dan Temu Ireng sebagai tanaman inangnya. Ketika serangga ini menyerang tanaman Jahe, gejala yang timbul sulit dibedakan dengan serangan penyakit layu, setelah 8-10 hari tanaman terlihat menguning dan mengering, dimulai dari daun sebelah bawah kemudian diikuti seluruh daun. Serangan berat mengakibatkan tanaman layu dan kering, sedangkan rimpangnya keropos.

Pengendalian Lalat Rimpang:

Secara Kultur teknis.

  • Tidak menanam jahe tumpang sari dengan kunyit atau  tanaman  lain  keluarga Zingiberaceae yang merupakan tanaman inang hama ini;
  • Sortasi rimpang sebelum tanam;
  • Mengusahakan pertumbuhan tanaman yang sehat, bebas dari serangan penyakit layu atau penyakit lainnya;
  • Penggunaan tanaman nilam sebagai barier dan tumpang sari dengan jahe dapat menekan populasi lalat rimpang;
  • Sanitasi dengan membersihkan pertanaman dari sisa-sisa tanaman dan memusnahkannya.

Secara Biologis

Memanfaatkan musuh alami yaitu parasitoid larva-pupa Trichopria sp. (Diapriidae, Hymenoptera), dan cendawan Beauveria bassiana yang menginfeksi larva.

Secara Kimiawi

Penggunaan insektisida untuk mengendalikan lalat dewasa. Insektisida yang terdaftar dan diizinkan Menteri Pertanian untuk OPT jahe belum ada.

B. Hama Kutu Perisai Aspidiella hartii Gr.

Kutu yang berasal dari Ordo : Homoptera/Famili : Diaspididae ini sering menggunakan tanaman Jahe, Kencur, Temulawak, Kunyit, Gadung, dan Porang sebagai tanaman inangnya. Serangan hama tampak dari kutu-kutu berbentuk perisai yang menempel di permukaan rimpang dan di bawah sisik rimpang sehingga nampak kusam. Umumnya menyerang di pertanaman kemudian dapat berkembang  dengan baik di tempat penyimpanan. 

Pengendalian Hama Kutu Perisai 
Secara Kultur teknis
  • Penggunaan bahan tanaman yang bersih dan sehat;
  • Memutuskan siklus hidup OPT (pergiliran tanaman dengan bukan tanaman inang);
  • Sortasi hasil panen;
  • Menyimpan hasil panen di tempat yang memenuhi syarat (bersih dan tidak lembab).
Secara Biologis
Memanfaatkan musuh alami yaitu parasitoid Phycus sp. (Adhelinidae, Hymenoptera) dan Adhelencyrtus moderatus Howard (Encyrtidae, Hymenoptera) serta dua jenis tungau pemakan kutu.
 
ecara Fisik/ Mekanis
Menaburi rimpang dengan abu dan menyikat kutu yang menempel pada rimpang dengan sikat halus juga dapat mencegah berkembangnya populasi kutu, terutama untuk rimpang siap ekspor.

Secara Kimiawi
Perlakuan benih dan merendam hasil panen dengan larutan insektisida yang terdaftar dan diizinkan Menteri Pertanian.

C. Layu Bakteri Ralstonia (Pseudomonas)


Penyakit ini merupakan salah satu penyakit utama pada tanaman family Solanacea. Penyakit iniu dapat berkembang biak pada suhu 30 hingga 35 derajat celcius. Penyakit ini dapat hidup dan tinggal pada tanah sisa pertanian dalam waktu yang lama. 

Gejala yang timbul akibat serangan penyakit ini adalah:
  • Gejala pertama pada umur 3 bulan adalah daun menguning dan menggulung, dimulai dari daun yang lebih tua kemudian diikuti daun yang lebih muda, selanjutnya sampai semua helai daun  kuning dan mati
  • Gejala menguning pada daun biasanya dimulai dari pinggir daun kemudian menyebar ke seluruh helai daun
  • Pada bagian pangkal batang terlihat gejala cekung basah dan garis-garis hitam atau abu-abu sepanjang batang
  • Pada tahap perkembangan, batang mudah dicabut dari bagian rimpang. Kalau potongan pangkal batang atau rimpang dipijit dengan tangan akan mengeluarkan lendir berwarna putih seperti air susu
Pengendalian Penyakit Layu Bakteri Ralstonia
Secara Kultur teknis
  • Menanam bibit sehat
  • Tidak menanam jahe pada areal yang terserang penyakit ini minimal 5 tahun, sebaiknya ditanami tanaman yang bukan inang R. solanacearum antara lain padi dan jagung
  • Di daerah endemik, harus dilakukan rotasi dengan tanaman lain yang bukan inang patogen ini.
Secara Mekanis
  • Membuat saluran-saluran drainase yang baik agar tidak tergenang air
  • Melakukan sanitasi dan pemeliharaan kebun dengan teratur dan intensif, yaitu mencabut tanaman sakit, mencabut gulma dengan baik
  • Pemakaian abu sekam dan ekstrak bawang merah pada tanah terkontaminasi R. solanacearum dapat menekan serangan penyakit sampai 33%
Secara Biologis
Pemakaian kompos atau agens antagonis seperti Gliocladium sp., Trichoderma sp., atau Pseudomonas fluorescens, kompos Biotriba dapat menekan serangan penyakit.

Secara Kimiawi
Pengendalian menggunakan Dithane M-45 0,25%), Bavistin (0,25%).

D. Busuk Rimpang


Penyakit busuk rimpang ini bisa disebabkan oleh beberapa jenis bakteri dan jamur, diantaranya adalah Rhizoctonia solani Kuhn dan Fusarium oxysporum f.sp. zingiberi. Penyakit ini seringkali menyerang tanaman Kentang, letus, cabai, kubis, gambas, tomat, kacang panjang, kangkung, bayam, kecipir, lobak, terung, kenikir, parai, strawberi, semangka, jeruk, belimbing, mangga, durian, srikaya, kacang tanah, ubi jalar, kacang hijau, sorgum, jagung, kedelai, kacang asu, kapas, kina, kayu manis, panili, lada, kopi, kenaf, rosella, tembakau, nona makan sirih, orok-orok, kunyit, jahe, kaca piring, pacar banyu, anggrek, soka, melati, petai cina, kembang pukul empat, enceng gondok dan padi.

Gejala-gejala yang timbul ketika tanaman terserang penyakit busuk rimpang adalah: 
  • Perubahan warna pada daun di bagian bawah, daun berubah warna dari hijau menjadi kuning  dan berangsur-angsur menjadi layu
  • Pada serangan berat rimpang menjadi busuk, dan batang semu keriput
  • Bila tanaman dicabut, rimpang tidak segar, kering dan warnanya kehitam-hitaman
  • Bila rimpang dibelah, maka bagian dalamnya berwarna agak gelap dan membusuk
  • Rimpang terinfeksi R. solani sulit dibedakan secara visual dengan penyakit lain yang disebabkan oleh Fusarium sp.
Pengendalian Penyakit Busuk Rimpang 
Secara ultur Teknis
  • Memilih benih yang sehat dan cukup umur, tidak terdapat luka;
  • Menanam jahe di lahan yang drainasenya baik;
  • Mengadakan pergiliran (rotasi) tanaman.
Secara Mekanis
Melakukan eradikasi selektif dan membakarnya.
 
Secara Biologis
Bekas tanaman sakit diberi kompos matang atau agens antagonis seperti Trichoderma spp. atau Gliocladium spp. atau Pseudomonas fluorescens.

Secara Kimiawi
Pengendalian menggunakan Dithane M-45 (0,25%), Bavistin (0,25%).

E. Penyakit Kuning (Fusarium sp.)

Fusarium sp. merupakan jamur tular tanah (soil borne) yang mempunyai banyak spesies. Terbatas pada tanaman jahe, jenisnya adalah F. oxysporum f.sp. zingiberi. Gejala yang timbul ketika tanaman terinfeksi jamur ini adalah bagian daun muda berwarna pucat, kemudian gejala menyebar ke seluruh bagian daun lainnya, batang menjadi keriput tetapi tidak jatuh ke tanah sebagaimana gejala serangan penyakit layu bakteri, rimpang berwarna kecoklatan pada bagian terinfeksi tetapi tidak menyeluruh.

Pengendalian Penyakit Bercak Daun Fusarium 
Secara Kultur Teknis
  • Memilih benih yang sehat dan cukup umur, tidak terdapat luka;
  • Menanam jahe di lahan yang drainasenya baik;
  • Mengadakan pergiliran (rotasi) tanaman.
Secara Mekanis
Melakukan eradikasi selektif dan membakarnya.

Secara Biologis
Sebelum penanaman, pada lubang tanam diberi agens antagonis seperti Trichoderma spp. atau Gliocladium spp. atau kompos yang matang.

Secara Kimiawi
Fungisida nabati Minyak Bunga Cengkeh (MBC).

F. Bercak Daun (Phyllosticta Zingiberi)

Penyakit ini merupakan penyakit tanaman akar atau rimpang seperti Jahe. Jenis jamur Phyllosticta zingiberi diklasifikasikan sebagai Ascomycetes yang memiliki piknidia (organ penghasil spora aseksual) berdiameter 5-120 ยต dan berbentuk oval, dan berbentuk titik-titik berwarna coklat pada sisi teratas dari lesi jamur ini. Jamur Phyllosticta zingiberi yang termasuk kelompok jamur Sphaeropsidales, piknidia dilepaskan jika keadaan lembab, kelembaban juga diperlukan ketika spora bertunas.

Gejala awal penyakit adalah adanya bercak klorotik kecil berbentuk oval pada daun. Pada keadaan serangan berat seluruh daun dapat terserang, dan menjadi kering.

Pengendalian Penyakit Bercak Daun (Phyllosticta Zingiberi)

Secara Kultur Teknis 

  • Jarak tanam tidak terlalu rapat agar kelembaban di sekitar tanaman tidak terlalu tinggi;
  • Sanitasi kebun;
  • Perbaikan drainase;
  • Penyemprotan dengan fungisida segera setelah ditemukan adanya gejala sakit di kebun
Secara Mekanis
Eradikasi tanaman/bagian tanaman yang sakit dan dimusnahkan.

Secara Kimiawi
Fungisida Dithane M-45 (0,25%), Bavistin (0,25%).

G. Penyakit Akar Nematoda 

Nematoda yang paling merugikan pada tanaman jahe yaitu Radopholus similis, Meloidogyne spp. dan Pratylenchus coffeae.

Tanaman yang terserang penyakit ini memiliki gejala lebih cepat tua dibandingkan yang sehat. Serangan lebih berat dapat mengakibatkan akar dan rimpang menjadi busuk. Bila rimpang terserang dipotong melintang tampak luka-luka berwarna coklat pada batas antara bagian rimpang sakit dengan yang masih sehat.

Pengendalian Penyakit Akar Nematoda:
Secara Kultur teknis
  • Dipilih lahan yang belum pernah ditanami jahe dan belum pernah dilaporkan terinfeksi berat oleh nematoda;
  • Untuk lahan yang sudah pernah terinfeksi nematoda maka diperlakukan secara kimia, sekurang-kurangnya 2 – 3 minggu sebelum tanam;
  • Sanitasi kebun dengan baik;
  • Rotasi tanaman dan pemilihan waktu tanam secara benar;
  • Penggunaan benih bebas nematoda.
Secara Mekanis
Perlakuan rimpang jahe dengan air panas 40oC selama 20 menit, atau suhu 50 derajat Celcius selama 10 menit. Perlakuan air panas harus dilakukan secara hati-hati karena viabilitas benih akan terpengaruh.

Secara Biologis
  • Pemanfaatan bakteri Pasteuria penetrans dengan dosis 2 kapsul/tanaman/6 bulan untuk mengendalikan Meloidogyne spp., dan Radopholus similis;
  • Pemanfaatan jamur  Arthrobotrys sp., Dactylaria sp., dan Dactdella sp. untuk mengendalikan larva nematoda;
  • Pestisida nabati tepung biji mimba 25-50 gr/tanaman/3 bulan (untuk daerah yang ada tanaman mimba).
Secara Kimiawi
Insektisida yang terdaftar dan diizinkan Menteri Pertanian.

PEMELIHARAAN DAN MONITORING
Pemeliharaan dan Monitoring bertujuan agar pertumbuhan tanaman dapat berproses secara maksimal sehingga dapat memberi hasil panen yang diharapkan. Proses pemeliharaan dan monitoring ini mencakup kegiatan penyulaman, penyiangan, penyiraman dan pembumbunan. 
  • Penyulaman. Dilakukan pada awal masa tanam yang fungsinya untuk segera mengganti bibit yang tidak tumbuh secara maksimal atau gagal tumbuh, agar pertumbuhan tanaman akan seragam.
  • Penyiangan. Pada usia 3 hingga 6 bulan tanaman jahe harus terbebas dari gulma, oleh karena itu proses penyiangan ini sangat penting pada usia tersebut. Lakukan setiap 1 hingga 3 minggu sekali disesuaikan dengan kondisi gulma. 
  • Penyiraman. Intensitas penyiraman pada tanaman disesuaikan dengan cuaca, keadaan tanah dan letak lahan. Pada usia awal tanam hingga usia 3 bulan, tanaman jahe tidak boleh kekurangan air, kelebapan tanah harus dijaga, pada musim kemarau penyiraman dilakukan setiap pagi dan sore hari. 
  • Pembumbunan. Pembumbunan dilakukan setiap satu bulan sekali sejak masa tanam. Namun ketika musim hujan pembumbunan harus lebih diperhatikan karena seringkali tanah tergerus air hujan. 
TUMPANG SARI 
Jika ingin melakukan sistem tumpang sari pada lahan yang ditanami Jahe, sebaiknya pilih tanaman yang masa panennya tidak lebih dari tiga bulan. Harus diperhatikan tanaman pendamping tidak boleh mengganggu proses pertumbuhan jahe itu sendiri karena akan sangat berpengaruh pada hasil panen. 

PANEN
Untuk keperluan konsumsi jahe dapat dipanen pada usia 8 hingga 10 bulan, namun jika untuk keperluan bibit sebaiknya jahe dipanen pada usia maksimal yaitu 12 bulan. Jika panen dilakukan ketika pohon jahe sudah benar-benar kering dan hilang/tidak terlihat, lakukan pemamenan dengan menggunakan garpu untuk meminimalisir rimpang rusak terkena benda tajam seperti cangkul, setelah digali menggunakan garpu, lakukan penyisiran menggunakan cangkul untuk mencari rimpang yang tertinggal. 

PEMASARAN
Bagi petani yang sudah berpengalaman mungkin soal pemasaran tidak akan menemui kesulitan, karena mereka pasti sudah punya 'lubang' untuk memasarkan komoditasnya. Namun bagi petani baru, ini merupakan masalah besar, bahkan banyak petanii pemula yang membuang hasil panennya karena tidak ada yang menadah. 

Berkeliling mencari pembeli adalah salah satu cara yang harus dilakukan, jika hasil panennya berjumlah kuintalan atau bahkan ton-an mungkin akan lebih mudah, namun jika hasil panennya kurang dari jumlah itu, sebaiknya datangilah pedagang-pedagang rempah di pasar, tawarkan produk kita, cari juga pengusaha-pengusaha makanan atau jamu olahan di sekitar kita. Jangan terlalu ngotot soal harga, ikuti saja harga pasar yang sedang berlaku saat itu. 

Selain itu kita juga bisa mengolah sendiri komoditas hasil panen kita, lalu kita jual hasil olahannya, dengan cara ini kita bisa menaikkan nilai jual pada komoditas hasil panen. 

KENDALA
Setiap petani pasti mengalami kendala yang berbeda, dipengaruhi oleh faktor geografis, musim, media tanam, bibit, dan banyak lagi. Kendala yang saya rasakan ketika menanam jahe di lahan yang terletak di huma atas bukit adalah sulitnya suplay air saat memasuki musim kemarau, sehingga tanaman jahe mengalami kekeringan. Selain itu serangan hama yang tiba-tiba membuat saya cukup kelabakan. 

0 komentar:

Posting Komentar