Kamis, 04 Oktober 2012

Lha...Rokok Lagi

Ini adalah kebawelan saya yang kedua tentang rokok setelah kebawelan saya di Racun Paling Unyu beberapa bulan yang lalu. Memang sih ya, menjadi orang yang memutuskan untuk tidak merokok dilingkungan perokok itu kerap kali bikin makan ati, habisnya diledekin mulu, dibilang Banci lah, bukan laki lah, biar cepet naik haji lah...terus biar dibilang laki, ci akuhh ini harus bilang ‘WOW’ sambil ngisep tabung Gas 3 kilo getoo???. Yahh...jatoh-jatohnya berisik di Blog ini lagi deh.

Otak ini makin mumet saat dapat kabar pada tanggal 11 September 2012 yang lalu, WHO dan Pusat Pencegahan dan Pengawasan Penyakit Amerika Serikat menetapkan bahwa penghisap rokok Laki-Laki Indonesia menempati peringkat teratas terbanyak dunia, keren gak tuh?!. 

Dikutip dari ‘shnews’, Bahwa survei tersebut digagas pada tahun lalu dengan melibatkan 8.000 peserta dari 15 negara, termasuk Bangladesh, Brasil, China, Mesir, India, Meksiko, Filipina, Polandia, Rusia, Thailand, Turki, Ukraina, Uruguay, dan Vietnam. Menurut hasil survei itu pula, Indonesia dilaporkan memiliki jumlah perokok pasif yang cukup tinggi. Para perokok pasif dapat ditemui di rumah, kantor, dan tempat-tempat umum.

Disana juga disebutkan bahwa sekitar 200.000 orang di Indonesia tewas karena penyakit yang berhubungan dengan akibat merokok. Dan yang paling absurd adalah cukai rokok Indonesia merupakan  cukai yang  terlalu rendah diantara standard regional negara lain, hal ini juga pernah saya ulas pada postingan saya yang berjudul “Racun Paling Unyu”.

Boleh dikatakan ‘Prestasi’ indonesia tahun ini adalah penyempurna dari ‘pencapaian’ Indonesia pada tahun 2011 yang lalu. Alasannya, dikutip dari ‘Okehealth’ bahwa survei GATS (Global Adult Tobacco Survey) Indonesia pada 2011 menunjukkan bahwa bila dibandingkan dengan negara-negara lain yang melaksanakan GATS, seperti India, Filipina, Thailand, atau Vietnam, Indonesia menduduki prevalensi perokok aktif tertinggi.

Dalam survei tersebut memperoleh hasil bahwa sekitar 67,0 persen pria dan 2,7 persen wanita Indonesia merupakan perokok aktif. Wuiddiih...harusnya kita mendapat predikat masyarakat yang mapan secara ekonomi dong, bagaimana tidak?!, buktinya sebagian besar masyarakat kita sanggup membeli dan mengkonsumsi rokok berbungkus-bungkus dalam satu hari.

Mungkin hal ini juga berhubungan dengan kebijakan pemerintah kita yang terlalu lembek terhadap rokok ini. Bila kita ambil contoh dari Australia dalam melindungi warganya dari rokok, mereka menetapkan undang-undang yang mensyaratkan produsen rokok untuk menggunakan bungus rokok tanpa merek, selain itu mereka juga melarang iklan rokok dalam bentuk media apapun. 

Tentu saja itu mendapat tentangan dari para produsen rokok disana, tapi Pemerintah Australia tetap keukeuh pada pendiriannya untuk menegakkan undang-undang. Bahkan Pemerintah Australia akan memberi denda pada pihak yang melanggar undang-undang, besaran dendanya mulai dari AUD 12.000 (± Rp120 juta) sampai dengan AUD 60.000 (± Rp600 juta). Selain itu Pemerintah Australia juga menaikkan harga standar rokok menjadi begitu mahal, menurut informasi sih harga sebungkus rokok disana bisa mencapai 140 sampai 160 ribu rupiah per bungkusnya. Berani?.

Nah kalau di Indonesia gimana?, ah jangan tanya lagi deh. Kita dapat dengan mudah mendapati iklan rokok saat menonton acara sinetron ABG, Billboards, internet, bahkan acara-acara yang penggemar mayoritasnya adalah laki-laki dan anak muda sepeti konser musik dan event olah raga, malah dominan disponsori oleh produk rokok. Benar-benar ‘Absurdisme’.

Habis ini para perokok pasti bilang “Terus gue harus ganti ngemut jempol kaki loe getooo???”. Yahh itu sih saya serahkan pada ungkapan lama, “Semua dikembalikan lagi pada diri masing-masing”. Mau ngisep ini, inu, anu, ono...selanjutnya terserah anda. Yang pasti saya akan tetap berusaha memegang moto hidup saya yaitu “Lebih Keren Ngupil Daripada Nyimeng”. Gitu Aja Kok.

Referensi:
http://forum.kompas.com
http://www.shnews.co
http://health.okezone.com
http://aceh.tribunnews.com