Rabu, 27 Maret 2013

Jangan Sampai Lupa "Nama" Sendiri

Gambar : twicsy.com
Sebelum menulis ini, aku sempat membaca tulisan keren dari mbak-mbak yang suaranya ngangenin banget, yaitu Mbak Dinie Haiti Zulfany dengan tulisannya yang berjudul "Perang Pemikiran, Ghazwul Fikri". Walau konteksnya berbeda, tapi aku merasa tulisan Mbak Dinie itu ada kaitannya dengan tema yang hendak aku angkat pada postinganku kali ini. Sebenarnya ini adalah salah satu tulisan dari Blog Urang Lembur yang aku tulis dalam versi bahasa Indonesia.  

Dalam tulisan ini aku masih membahas seputar bahasa daerah, khususnya bahasa sunda. Setelah memutuskan untuk membuat blog yang secara khusus aku isi dengan tulisan-tulisanku yang dikemas dalam bahasa sunda, aku baru benar-benar menyadari ternyata membuat tulisan dalam bahasa sunda itu tidak mudah. Jangankan nulis, baca tulisan majalah berbahasa sunda saja aku kayak yang lagi belajar baca, gak lancar seperti ketika aku membaca tulisan yang berbahasa Indonesia. Lho, aku kan asli berasal dari suku sunda, tapi kok nulis/membaca tulisan dalam bahasa sunda aja sampe kesulitan gitu? Hadohh.
#toyor pala sendiri

Alasannya tidak lain karena selama ini aku memang sangat jarang menulis dan membaca tulisan berbahasa sunda. Kosakata bahasa sunda ku juga masih sangat minim, hanya terbatas pada kosakata yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari saja. Ketika membuat tulisan berbahasa sunda, terkadang aku masih harus bertanya sana-sini, "eh kalo bahasa sundanya kata ini apa yak? kalo bahasa sundanya kata itu apa yak?" dan kalau tidak ada tempat bertanya, aku langsung kongkalingkong sama Mang Gugel. 
#payah level 10

Tapi aku merasa mendapat pelajaran dari semua kekonyolanku itu, sekarang aku lebih memberi perhatian pada budaya lokal/budaya sunda. Padahal dulu aku sempat menjadi anak yang boleh dibilang agak anti terlibat dengan budaya daerah. Dulu, ketika ada teman yang ngajak nonton Pagelaran Wayang Golek yang kerap diselenggarakan di Lapang Upakarti Kabupaten Bandung, misalnya, aku selalu menampiknya. Ketika ada orang yang sedang mendengarkan lagu-lagu sunda, aku selalu ilfil karena menganggap lagu daerah itu kampungan. Rudy yang masih ababil itu memang sangat memalukan, terlena oleh pengaruh budaya-budaya asing yang "penuh kemilau" itu, sehingga menutup mata pada budayanya sendiri. 

Disini aku tidak berniat menggurui, menghakimi atau mempengaruhi siapapun juga, karena mencintai kebudayaan sendiri itu bukan karena pengaruh orang lain, semua itu harus berasal dari niat diri sendiri. Sampai sekarang tidak ada satupun orang yang mempengaruhiku untuk memberi perhatian pada budaya sunda. Ini murni karena keinginanku dalam rangka "ngamumule" atau turut serta dalam melestarikan budaya sunda, khususnya basa sunda, walaupun basa sunda yang aku pergunakan itu hanya terbatas pada basa sunda kerakyatan, yang  miskin sentuhan sastra penuh makna. Mungkin usahaku ini sama sekali tidak berpengaruh dalam pelestarian budaya sunda yang selama ini diupayakan oleh kaum Budayawan, tapi aku yakin suatu saat nanti tulisan-tulisanku itu akan menjadi pengingat akan kekayaan budaya berbahasa sunda, setidaknya untuk diriku sendiri.

Silahkan mempelajari dan menggunakan bahasa asing sampai jago banget, bahkan itu sangat dianjurkan, karena bahasa asing adalah salah satu "jembatan" menuju "dunia luar". Lihat saja para pembesar kita, Bung Karno itu jago banget bahasa asing, bahasa Inggris dan Belanda. Bung Hatta juga jago berbahasa asing. Justru karena bisa bahasa Belanda beliau bisa menyerang balik para penjajah dgn pledoi “Indonesia Vrij.” Bung Sjahrir berpidato di PBB dengan bahasa Inggris yang sangat apik, sehingga beliau  dijuluki “Bung kecil yang besar” karena kehebatannya berpidato. Tapi disisi lain, jangan sampai kita melupakan bahasa daerah sendiri, karena itu adalah salah satu bentuk usaha pelertarian budaya daerah. 

Jadi intinya, mengenal dan mengikuti budaya asing itu memang tidak salah, asalkan tidak sampai melupakan budaya sendiri, karena menurutku orang yang lupa akan akar budayanya sendiri itu ibarat orang yang lupa akan namanya sendiri, tidak memiliki identitas diri. Gak mau kan sampai lupa nama sendiri?